Tanggal 8 Februari 2008, penanggalan versi Yin Li / almanak China mulai masuk
periode tahun baru 2559 ( hitungan tahun berdasarkan kelahiran Gong Fu Zi /
Khong Hu Cu ). Tahun tersebut merupakan pergantian lambang Shio dari tahun Babi
ke tahun Tikus. Pergantian siklus alam ini menandakan berbagai perubahan suasana
dan iklim di bumi.
Berdasarkan ilmu astrologi China yang lebih bisa dipertanggung-jawabkan,
pergantian periode Shio dilakukan dengan berpedoman pada siklus Matahari, saat
masuk ke periode musim semi atau Li Chun yang setiap tahunnya jatuh di antara
tanggal 4 atau 5 Pebruari dari penanggalan Masehi. ( catatan: buku Tong Shu ini
menggunakan konsep Li Chun ).
Tahun 2008 atau tahun Shio Tikus dinamai sebagai tahun Wu Zi dengan analisa
dan rincian rumusnya sebagai berikut :
¡¤ Wu, adalah siklus kelima dari rumusan Tian Gan / Batang Langit, mewakili
elemen yang berunsur Tanah Positif.
¡¤ Zi adalah siklus pertama dari rumusan Di Zi / Cabang Bumi, mewakili elemen
Air Positif atau dilambangkan sebagai Tikus.
Tahun Wu Zi oleh sebagian orang disebut sebagai tahun Tikus Tanah. Penjabaran
ini diambil dari pembacaan secara terpisah terhadap rumusan Tian Gan dan Di Zi.
Sedangkan untuk penjabaran yang lebih komplek, berdasarkan konsep Feng Shui
klasik yang terangkum dalam rumusan Liu Se Hoa Jia ( 60 konsep penggabungan Tian
Gan dan Di Zi ), maka gabungan rumusan Wu yang berunsur Tanah dan Zi yang
berunsur Air menghasilkan elemen alam yang semestinya, yaitu Api Positif. Jadi
tahun 2008 disebut sebagai tahun Tikus Api.*MAS DIAN, MRE*
Peruntungan di Tahun Tikus 2008
Menapaki tahun Tikus, di dalam bidang usaha, bintang
mujur “Yu Tang/Aula Giok 玉堂” dan “Tai Yang/Matahari 太陽” berbarengan
menyinari istana jiwa, peluang ini betul-betul sulit diperoleh, jangan
sekali-kali terlewatkan begitu saja. “Yu Tang” adalah sebuah bintang mujur
kelas satu, terutama menandakan akan terdapat penolong berbudi besar
membantu dalam peruntungan; sedangkan “Matahari” sama-sama adalah bintang
sang penolong berkekuatan besar, juga terutama ber-aura, adil dan suka
memberi. Orang ber-shio Sapi di dalam tahun tikus ini berjumpa dengan
kedua dewa rezeki ini, betul-betul sulit didapat; ini menandakan di dalam
pekerjaan anda akan memperoleh apresiasi dan kepercayaan dari atasan, yang
akan meningkatkan posisi anda untuk tanggung jawab penting, sehingga
wawasan dan pengalaman anda pada akhirnya bisa dimanfaatkan dengan
maximal, disamping itu anda bekerja dengan adil dan terbuka, akan membuat
relasi takluk dengan tulus, rela sepenuh hati berkoordinasi dengan anda,
membereskan tugas yang diberikan boss dengan tuntas.
Selain itu, bintang “Sui He utamanya damai, ceria, menandakan anda
memiliki peruntungan jodo dengan orang lain yang sangat baik, ini bagi
anda yang berusaha dalam bidang jasa dan retail, tak diragukan lagi adalah
berita gembira besar, karena tamu anda akan berjubel, usaha lancar, sumber
rezeki mengalir masuk dengan deras!
Dalam bidang peruntungan harta, orang yang ber-shio sapi, arus peruntungan
harta tak dapat dihambat, tak peduli harta utama/halal, harta sampingan
ataupun harta tidak halal semuanya akan memperoleh hasil menggembirakan,
boleh dibilang adalah tahun panen. Bagi anda yang karyawan akan ada kabar
baik tentang kenaikan gaji, bagi investor akan memperoleh imbalan yang
sangat ideal, secara iseng membeli lotere ataupun memasang nomer balap
kuda, sepak bola dll., juga dapat memperoleh rezeki tak terduga, boleh
dibilang sumber harta dan uang mengalir bak tak terputus. Akan tetapi,
anda jangan sekali-sekali karena pemasukan mengalir deras lantas royal,
dikarenakan di dalam istana jiwa anda saat ini muncul sebuah bintang “Tian
Kong/Langit. Bintang “Langit” terutama rawan godaan, menggerogoti harta,
harta tak bisa terkumpul, menandakan tahun ini anda akan banyak
pengeluaran. Meskipun harta anda bertambah, namun jangan sampai takabur,
karena akan terperangkap jebakan dari bintang “Langit”, sehingga membuat
rezeki anda keluar-masuk yang pada akhirnya bisa saja menjadi kosong
melompong!
TIPS KEBERHASILAN
Investasi yang bersifat aktif, pengendalian pasar modal, valas, surat
berharga, reksa dana berjangka.
MINI TIPS MEMBUKA PERUNTUNGAN:
banyak makan aneka rumput laut, Banyak minum sari kedelai.Banyak makan aneka rumput laut (Hai Dai 海帶、Hai Cao海草、Hai Tai海苔 dll). Makanan-makanan tersebut termasuk unsur air, terutama memakan jenis rumput laut Hai Dai 海帶 paling bermanfaat, juga paling bisa membuka peruntungan.
Jikalau anda dilahirkan pada musim panas, waktu kelahiran pagi jam 9
sampai jam 1 siang, dianjurkan makanlah semakin banyak.
Sedangkan setiap minggu minimal meminum sari kedelai 3 kali,
sehari-harinya (3 kali makan) boleh sering-sering memakan menu tahu.
Dikutip dari
penerbit: Chun Guang.dajiyuan.com.dajiyuan.com) oleh Xixi Chu
Akal dan Konsep Ketuhanan
06 Februari 2008 13:01
oleh Yayasan Al-Jawad
Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah Fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya Fitrah mereka redup atau bahkan padam.
Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para Ahli ma’rifat berkata,”Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al-Qur’an dan hadis). Merka beralasan dengan adanya sejumlah ayat atau riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al-Qur’an dan hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) Aqli. Pada edisi berikutnya, Insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur’an, hadis dan konsep ketuhanan.
Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribadatan saja.
Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal ?
Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal, dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal.
Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan yang sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur’an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al-Qur’an itu sendiri, yaitu Allah Ta’ala.
Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al-Qur’an lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal itu berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur’an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah.
Mereka menjawab,”Karena Al-Qur’an mengatakan demikian.” Maka terjadilah daur (Lingkaran Setan?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al-Qur’an dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli.
Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofis.
Pemahaman
Selama ini kita paham akan maksud Ghaib.
Kita semua sering mendengar, membaca bahkan kita sendiri menceritakan dan menulis perihal Ghaib. Satu sisi berurai segala sesuatu yang diluar kemampuan panca indera kita, adalah Ghaib. Sisi lainnya berurai, segala sesuatu yang dianggap diluar kemampuan panca indera, disebabkan kita belum mempunyai kemampuan untuk berurai, dan menyatakan itu bukan Ghaib.
Kita acapkali alpa perihal sesuatu yang mengetahui perihal Ghaib. Adalah sudah dijelaskan didalam kitab/Alquran, bahwasanya yang mengetahui perihal Ghaib adalah DIA.
Lalu, apa sebenarnya selain dari Ghaib yang dimaksud diatas? Tidak lain adalah sesuatu yang diciptakanNYA dan sesuatu itu merupakan Kalam DIA. Terdapat dua sesuatu yang sangat-sangat tipis bila kita belum memahami keduanya, yaitu Ghaib dan Kalam Allah.
Tanpa disadari kita semua tergelincir dalam hal pengenalan yang kita kenal dengan kata Makrifat. Apakah salah bila kita mengatakan diri kita telah Mengenal Allah?
Jawabannya tentulah tidak. Sebab; banyak jalan untuk mengenal DIA. Salah satu jalan yang umum lakukan adalah mengenal DIA melalui segala ciptaannya, yang mana juga merupakan Kalam Allah, bukan Ghaib. Demikian halnya, bila kita mengenal DIA, melalui segala yang ada diluar kemampuan panca indera kita, yang juga merupakan Kalam Allah. Kesemua ini, adalah Mengenal DIA dengan sistem perantara, yaitu Kalam DIA.
Sebab itu; kita harus dapat memahami perbedaan antara Kalam DIA dan apa/siapa yang Ghaib. Sehingga kita sadar akan sifat dari kata “Mengenal DIA”.
Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala
N.B: Burrhan yaitu Bukti yang nyata
1. Burhan Nidham (Keteraturan)
Burhan ini dibangun atas beberapa muqaddimah (premis).
Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati.
Kedua, bahwa alam bendawi (tabi’at) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam.
Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas (‘ilaliyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab (‘illat), dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab-akibat, adalah sebuah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa, atau ‘illatul ‘ilal).
Keempat, “sebab” atau ‘illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu “sebab” yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup.
Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu.
Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, di antaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang palin menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah manusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ?
Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai “sebab” atau ‘illat, dan “sebab” tersebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai “sebab” segala sesuatu itu dengan sebutan Allah Ta’ala.
2. Burhan al-Huduts (Kebaruan)
Al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada. Burhan ini terdri atas beberapa hal :
Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi.
Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena “sebab” sesuatu.
Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada ‘sesuatu’ yang keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Kaum muslimin menamakan ‘sesuatu’ itu dengan sebutan Allah Ta’ala.
Burhan-burhan Aqli-Filosofi tentang kenicayaan wujud Allah Ta’ala
A. Burhan Imkan Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu :
Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang lain.
Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan ‘adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-‘adam). Artinya sesutu yang ketika ‘ada’ disebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika ‘tidak ada’ disebabkan faktor eksternal pula, atau ketiadaannya juga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosuf, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi).
Mumtani’ atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (ijtima’un naqidhain).
Daur (siklus atau lingkaran setan). Misal, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, sedangkan B keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ad tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada saat yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima’un naqidhain (lihat Mumtani’).
Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B kebradaannya tergantung membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak mungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikin pula C tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya.
Tasalsul, yaitu susunan sejumlah ‘illat dan ma’lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi ‘illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tasalsul sama dengan daur, mustahil adanya.
Burhan Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa point berikut ini :
Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib atau mumkin.
Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membutuhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) atau tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil.
Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang wajib adalah ‘sebab’ dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau ‘illatul ‘ilal). Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta’ala.
B. Burhan ash-Shiddiqin
Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Ahlibait as. yang berbunyi,”Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya.” (Doa Shabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, burhan ini ingin menjelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahli mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama dengan penjelasan burhan Imkan.
Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Di antaranya penafsiran Mulla Shadra. Beliau mengatakan, “Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak membutuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama adalah wujud yang wajib, yaitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua , adalah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tegak kecuali dengan -Nya. (Nihayah al-Hikmah, hal. 269).
Allamah al-Hilli , dalam kitab Tajrid al-‘I’tiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan, “Diluar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala) , dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (ntuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib , maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mustahil adanya.
Pemahaman
Surat Al Hajj ayat 8 (XVII; 22; 8).
Dan Sebagian manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tiada petunjuk, dan tiada kitab yang menerangi.
Dari ayat tersebut diatas, dapatlah dilihat bahwasanya kita-kita masih sering berbantahan perihal DIA. Semua itu disebabkan karena ilmu yang dipahaminya. Hampir semua kita menganggap kenal langsung akan DIA.
Kalau kita tidak memahami apa/siapa yang ghaib, menunjukkan bahwasanya kita kenal DIA melalui segala ciptaannya (kalam). Sebagai contoh; Kita dapat berkomunikasi dengan DIA, apapun bentuknya, adalah benar mengenal DIA, hanya saja mengenal DIA melalui sesuatu, misalnya kita berurai padaNYA, akan DIA uraikan pada kita melalui sesuatu, yaitu rasa, dengar, lihat, cium, berkata (Alquran, manusia).
Mari kita memahami Surat Al ‘Alaq, ayat 3 dan 4 (96: 3;4)
Dan tiadalah bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau dibelakang tabir, atau dengan seorang rosul lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNYA apa yang DIA kehendaki. Sesungguhnya DIA Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
Apa yang Ghaib, adalah sesuatu yang sangat-sangat tidak bisa dipikirkan oleh kemampuan kita dan hanya bisa sebatas disaksikan tanpa pikiran.
Siapa yang Ghaib, adalah Zat DIA, yang mana Alquran menyebutnya Allah.
Mari kita memahami surat An Naml ayat 65
Bukankah, sudah dijelaskan “Katakanlah tidak ada seorang pun yang mengetahui yang ghaib di langit dan bumi kecuali Allah.
Jelas sudah segala sesuatu selain dari Zat DIA (Allah) adalah bukan Ghaib, melainkan CiptaanNYA yang juga merupakan Kalam DIA.
Banyak diantara kita alpa akan ayat diatas dan berurai Ghaib bisa dibuktikan. Bila kita memahami ayat diatas, jelas sudah yang kita buktikan selama ini adalah bukan ghaib, akan tetapi CiptaanNYA yang merupkan Kalam DIA
Kita sebagai ciptaanNYA diwajibkan untuk mengenal DIA, dalam cara/bentuk apapun. Baik itu Mengenal Dia melalui ciptaanNYA yang kasat panca indera ataupun tidak kasat panca indera.
Inilah yang dimaksudkan Awal beragama adalah mengenal DIA.
Mengenal DIA memalui tidak kasat panca indera, juga banyak cara dan sistemnya. Hasilnya juga beraneka ragam. Namun kesemuanya kembali lagi pada kemampuan kita dalam menterjemahkannya kedalam bentuk panca indera kita; ada yang melalui getaran, gerakan, rasa, gambaran, tulisan bahkan bertemu diri pribadi.
Melihat itu; jelas sudah Bagi yang memiliki kemampuan memahami segala ciptaanNYA, adalah telah menjalani perintahNYA, yaitu mau belajar dari segala ciptaaNYA, dengan cara/sistem yang berbeda..
Mari kita semua untuk berhenti menghujat apa/siapa yang ada didalam katagori dukun/paranormal khususnya, ustadz,kyai atau nama lainnya yang setara. Mereka semua hanya memiliki kemampuan dalam hal membaca segala Ciptannya (kalam). Kita tidak usah mereka-reka lagi perihal mereka.
Bagaimana perihal Kalam? Mari kita bersama mencoba mengungkap Kalam DIA didalam Thread Kalam Allah.
Kesimpulan kita semua yang mengakui adanya DIA, adalah telah melaksanakan Awal beragama adalah mengenal DIA. Hanya saja mengenal DIA melalui segala ciptaanNYA.
Inilah beda antara Ghaib dan Ciptaannya. Ghaib hanya bisa sebatas disaksikan tanpa pikiran. Apa/siapa yang Ghaib adalah Zat DIA (Allah).
Selama kita belum mengenal Zat DIA, menunjukkan kita telah mengenal DIA melalui Kalam DIA.
Alhamdulillahi…..
Misal ;
Kita semua tahu perihal Syahadat, bahkan kita semua menyatakannya, terlepas salah/benar pemahaman kita perihal Syahadat.
Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Aku bersaksi MUhammad itu utusan Allah.
Bila kita belum memahami apa/siapa yang Ghaib, tetapi kita telah memahami Kalam DIA, akanlah didapat sebuah kesaksian yang bersumber dari Kalam DIA.
Kita bersaksi perihal Allah dan MUhammad adalah bersumber dari Alquran, kitab lainnya, guru, orang tua atau segala ciptaanNYA, yangmana merupakan Kalam DIA. Inilah katagori orang-orang yang mau berfikir terlepas siapa, apakah kyai, ustad, orang tua, dan lainya, bahkan dukun atau paronormal.
Adalah sangat berbahagia, bila kita telah memahami apa/siapa yang Ghaib. Kesaksiannya adalah langsung dari sumber yang hakiki. Tiada kata/kalimat yang dapat diuraikan, bila kita telah mengenal apa/siapa yang Ghaib.
Alif lam mim, alif lam ro, Allahu.
Kaf, ha, ya, ain, sot, ha, mim, ain sin, kof
Bismillaahir rohmaanir rohiim
Alhamdulillahi, subhanahu.
periode tahun baru 2559 ( hitungan tahun berdasarkan kelahiran Gong Fu Zi /
Khong Hu Cu ). Tahun tersebut merupakan pergantian lambang Shio dari tahun Babi
ke tahun Tikus. Pergantian siklus alam ini menandakan berbagai perubahan suasana
dan iklim di bumi.
Berdasarkan ilmu astrologi China yang lebih bisa dipertanggung-jawabkan,
pergantian periode Shio dilakukan dengan berpedoman pada siklus Matahari, saat
masuk ke periode musim semi atau Li Chun yang setiap tahunnya jatuh di antara
tanggal 4 atau 5 Pebruari dari penanggalan Masehi. ( catatan: buku Tong Shu ini
menggunakan konsep Li Chun ).
Tahun 2008 atau tahun Shio Tikus dinamai sebagai tahun Wu Zi dengan analisa
dan rincian rumusnya sebagai berikut :
¡¤ Wu, adalah siklus kelima dari rumusan Tian Gan / Batang Langit, mewakili
elemen yang berunsur Tanah Positif.
¡¤ Zi adalah siklus pertama dari rumusan Di Zi / Cabang Bumi, mewakili elemen
Air Positif atau dilambangkan sebagai Tikus.
Tahun Wu Zi oleh sebagian orang disebut sebagai tahun Tikus Tanah. Penjabaran
ini diambil dari pembacaan secara terpisah terhadap rumusan Tian Gan dan Di Zi.
Sedangkan untuk penjabaran yang lebih komplek, berdasarkan konsep Feng Shui
klasik yang terangkum dalam rumusan Liu Se Hoa Jia ( 60 konsep penggabungan Tian
Gan dan Di Zi ), maka gabungan rumusan Wu yang berunsur Tanah dan Zi yang
berunsur Air menghasilkan elemen alam yang semestinya, yaitu Api Positif. Jadi
tahun 2008 disebut sebagai tahun Tikus Api.*MAS DIAN, MRE*
Peruntungan di Tahun Tikus 2008
Menapaki tahun Tikus, di dalam bidang usaha, bintang
mujur “Yu Tang/Aula Giok 玉堂” dan “Tai Yang/Matahari 太陽” berbarengan
menyinari istana jiwa, peluang ini betul-betul sulit diperoleh, jangan
sekali-kali terlewatkan begitu saja. “Yu Tang” adalah sebuah bintang mujur
kelas satu, terutama menandakan akan terdapat penolong berbudi besar
membantu dalam peruntungan; sedangkan “Matahari” sama-sama adalah bintang
sang penolong berkekuatan besar, juga terutama ber-aura, adil dan suka
memberi. Orang ber-shio Sapi di dalam tahun tikus ini berjumpa dengan
kedua dewa rezeki ini, betul-betul sulit didapat; ini menandakan di dalam
pekerjaan anda akan memperoleh apresiasi dan kepercayaan dari atasan, yang
akan meningkatkan posisi anda untuk tanggung jawab penting, sehingga
wawasan dan pengalaman anda pada akhirnya bisa dimanfaatkan dengan
maximal, disamping itu anda bekerja dengan adil dan terbuka, akan membuat
relasi takluk dengan tulus, rela sepenuh hati berkoordinasi dengan anda,
membereskan tugas yang diberikan boss dengan tuntas.
Selain itu, bintang “Sui He utamanya damai, ceria, menandakan anda
memiliki peruntungan jodo dengan orang lain yang sangat baik, ini bagi
anda yang berusaha dalam bidang jasa dan retail, tak diragukan lagi adalah
berita gembira besar, karena tamu anda akan berjubel, usaha lancar, sumber
rezeki mengalir masuk dengan deras!
Dalam bidang peruntungan harta, orang yang ber-shio sapi, arus peruntungan
harta tak dapat dihambat, tak peduli harta utama/halal, harta sampingan
ataupun harta tidak halal semuanya akan memperoleh hasil menggembirakan,
boleh dibilang adalah tahun panen. Bagi anda yang karyawan akan ada kabar
baik tentang kenaikan gaji, bagi investor akan memperoleh imbalan yang
sangat ideal, secara iseng membeli lotere ataupun memasang nomer balap
kuda, sepak bola dll., juga dapat memperoleh rezeki tak terduga, boleh
dibilang sumber harta dan uang mengalir bak tak terputus. Akan tetapi,
anda jangan sekali-sekali karena pemasukan mengalir deras lantas royal,
dikarenakan di dalam istana jiwa anda saat ini muncul sebuah bintang “Tian
Kong/Langit. Bintang “Langit” terutama rawan godaan, menggerogoti harta,
harta tak bisa terkumpul, menandakan tahun ini anda akan banyak
pengeluaran. Meskipun harta anda bertambah, namun jangan sampai takabur,
karena akan terperangkap jebakan dari bintang “Langit”, sehingga membuat
rezeki anda keluar-masuk yang pada akhirnya bisa saja menjadi kosong
melompong!
TIPS KEBERHASILAN
Investasi yang bersifat aktif, pengendalian pasar modal, valas, surat
berharga, reksa dana berjangka.
MINI TIPS MEMBUKA PERUNTUNGAN:
banyak makan aneka rumput laut, Banyak minum sari kedelai.Banyak makan aneka rumput laut (Hai Dai 海帶、Hai Cao海草、Hai Tai海苔 dll). Makanan-makanan tersebut termasuk unsur air, terutama memakan jenis rumput laut Hai Dai 海帶 paling bermanfaat, juga paling bisa membuka peruntungan.
Jikalau anda dilahirkan pada musim panas, waktu kelahiran pagi jam 9
sampai jam 1 siang, dianjurkan makanlah semakin banyak.
Sedangkan setiap minggu minimal meminum sari kedelai 3 kali,
sehari-harinya (3 kali makan) boleh sering-sering memakan menu tahu.
Dikutip dari
penerbit: Chun Guang.dajiyuan.com.dajiyuan.com) oleh Xixi Chu
Akal dan Konsep Ketuhanan
06 Februari 2008 13:01
oleh Yayasan Al-Jawad
Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah Fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya Fitrah mereka redup atau bahkan padam.
Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para Ahli ma’rifat berkata,”Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al-Qur’an dan hadis). Merka beralasan dengan adanya sejumlah ayat atau riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al-Qur’an dan hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) Aqli. Pada edisi berikutnya, Insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur’an, hadis dan konsep ketuhanan.
Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribadatan saja.
Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal ?
Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal, dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal.
Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan yang sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur’an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber Al-Qur’an itu sendiri, yaitu Allah Ta’ala.
Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al-Qur’an lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal itu berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum menerima keterangan Al-Qur’an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah.
Mereka menjawab,”Karena Al-Qur’an mengatakan demikian.” Maka terjadilah daur (Lingkaran Setan?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, Al-Qur’an dijadikan sebagai pendukung dan penguat dalil aqli.
Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang melalui pendekatan kalami (teologis) atau pendekatan filosofis.
Pemahaman
Selama ini kita paham akan maksud Ghaib.
Kita semua sering mendengar, membaca bahkan kita sendiri menceritakan dan menulis perihal Ghaib. Satu sisi berurai segala sesuatu yang diluar kemampuan panca indera kita, adalah Ghaib. Sisi lainnya berurai, segala sesuatu yang dianggap diluar kemampuan panca indera, disebabkan kita belum mempunyai kemampuan untuk berurai, dan menyatakan itu bukan Ghaib.
Kita acapkali alpa perihal sesuatu yang mengetahui perihal Ghaib. Adalah sudah dijelaskan didalam kitab/Alquran, bahwasanya yang mengetahui perihal Ghaib adalah DIA.
Lalu, apa sebenarnya selain dari Ghaib yang dimaksud diatas? Tidak lain adalah sesuatu yang diciptakanNYA dan sesuatu itu merupakan Kalam DIA. Terdapat dua sesuatu yang sangat-sangat tipis bila kita belum memahami keduanya, yaitu Ghaib dan Kalam Allah.
Tanpa disadari kita semua tergelincir dalam hal pengenalan yang kita kenal dengan kata Makrifat. Apakah salah bila kita mengatakan diri kita telah Mengenal Allah?
Jawabannya tentulah tidak. Sebab; banyak jalan untuk mengenal DIA. Salah satu jalan yang umum lakukan adalah mengenal DIA melalui segala ciptaannya, yang mana juga merupakan Kalam Allah, bukan Ghaib. Demikian halnya, bila kita mengenal DIA, melalui segala yang ada diluar kemampuan panca indera kita, yang juga merupakan Kalam Allah. Kesemua ini, adalah Mengenal DIA dengan sistem perantara, yaitu Kalam DIA.
Sebab itu; kita harus dapat memahami perbedaan antara Kalam DIA dan apa/siapa yang Ghaib. Sehingga kita sadar akan sifat dari kata “Mengenal DIA”.
Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta’ala
N.B: Burrhan yaitu Bukti yang nyata
1. Burhan Nidham (Keteraturan)
Burhan ini dibangun atas beberapa muqaddimah (premis).
Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati.
Kedua, bahwa alam bendawi (tabi’at) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam.
Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas (‘ilaliyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab (‘illat), dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab-akibat, adalah sebuah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa, atau ‘illatul ‘ilal).
Keempat, “sebab” atau ‘illat yang mengadakan seluruh alam raya ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu “sebab” yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup.
Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa “sebab” yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu.
Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacam-macam, di antaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang palin menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah manusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ?
Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai “sebab” atau ‘illat, dan “sebab” tersebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai “sebab” segala sesuatu itu dengan sebutan Allah Ta’ala.
2. Burhan al-Huduts (Kebaruan)
Al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah tidak ada. Burhan ini terdri atas beberapa hal :
Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi.
Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena “sebab” sesuatu.
Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada ‘sesuatu’ yang keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Kaum muslimin menamakan ‘sesuatu’ itu dengan sebutan Allah Ta’ala.
Burhan-burhan Aqli-Filosofi tentang kenicayaan wujud Allah Ta’ala
A. Burhan Imkan Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu :
Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang lain.
Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan ‘adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-‘adam). Artinya sesutu yang ketika ‘ada’ disebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika ‘tidak ada’ disebabkan faktor eksternal pula, atau ketiadaannya juga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosuf, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi).
Mumtani’ atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (ijtima’un naqidhain).
Daur (siklus atau lingkaran setan). Misal, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, sedangkan B keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ad tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada saat yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima’un naqidhain (lihat Mumtani’).
Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B kebradaannya tergantung membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak mungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikin pula C tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya.
Tasalsul, yaitu susunan sejumlah ‘illat dan ma’lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi ‘illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tasalsul sama dengan daur, mustahil adanya.
Burhan Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa point berikut ini :
Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib atau mumkin.
Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membutuhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) atau tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil.
Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang wajib adalah ‘sebab’ dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau ‘illatul ‘ilal). Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta’ala.
B. Burhan ash-Shiddiqin
Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Ahlibait as. yang berbunyi,”Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya.” (Doa Shabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, burhan ini ingin menjelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahli mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama dengan penjelasan burhan Imkan.
Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Di antaranya penafsiran Mulla Shadra. Beliau mengatakan, “Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak membutuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama adalah wujud yang wajib, yaitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua , adalah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tegak kecuali dengan -Nya. (Nihayah al-Hikmah, hal. 269).
Allamah al-Hilli , dalam kitab Tajrid al-‘I’tiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan, “Diluar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala) , dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (ntuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib , maka itulah yang dimaksud (Allah Ta’ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mustahil adanya.
Pemahaman
Surat Al Hajj ayat 8 (XVII; 22; 8).
Dan Sebagian manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tiada petunjuk, dan tiada kitab yang menerangi.
Dari ayat tersebut diatas, dapatlah dilihat bahwasanya kita-kita masih sering berbantahan perihal DIA. Semua itu disebabkan karena ilmu yang dipahaminya. Hampir semua kita menganggap kenal langsung akan DIA.
Kalau kita tidak memahami apa/siapa yang ghaib, menunjukkan bahwasanya kita kenal DIA melalui segala ciptaannya (kalam). Sebagai contoh; Kita dapat berkomunikasi dengan DIA, apapun bentuknya, adalah benar mengenal DIA, hanya saja mengenal DIA melalui sesuatu, misalnya kita berurai padaNYA, akan DIA uraikan pada kita melalui sesuatu, yaitu rasa, dengar, lihat, cium, berkata (Alquran, manusia).
Mari kita memahami Surat Al ‘Alaq, ayat 3 dan 4 (96: 3;4)
Dan tiadalah bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau dibelakang tabir, atau dengan seorang rosul lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNYA apa yang DIA kehendaki. Sesungguhnya DIA Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
Apa yang Ghaib, adalah sesuatu yang sangat-sangat tidak bisa dipikirkan oleh kemampuan kita dan hanya bisa sebatas disaksikan tanpa pikiran.
Siapa yang Ghaib, adalah Zat DIA, yang mana Alquran menyebutnya Allah.
Mari kita memahami surat An Naml ayat 65
Bukankah, sudah dijelaskan “Katakanlah tidak ada seorang pun yang mengetahui yang ghaib di langit dan bumi kecuali Allah.
Jelas sudah segala sesuatu selain dari Zat DIA (Allah) adalah bukan Ghaib, melainkan CiptaanNYA yang juga merupakan Kalam DIA.
Banyak diantara kita alpa akan ayat diatas dan berurai Ghaib bisa dibuktikan. Bila kita memahami ayat diatas, jelas sudah yang kita buktikan selama ini adalah bukan ghaib, akan tetapi CiptaanNYA yang merupkan Kalam DIA
Kita sebagai ciptaanNYA diwajibkan untuk mengenal DIA, dalam cara/bentuk apapun. Baik itu Mengenal Dia melalui ciptaanNYA yang kasat panca indera ataupun tidak kasat panca indera.
Inilah yang dimaksudkan Awal beragama adalah mengenal DIA.
Mengenal DIA memalui tidak kasat panca indera, juga banyak cara dan sistemnya. Hasilnya juga beraneka ragam. Namun kesemuanya kembali lagi pada kemampuan kita dalam menterjemahkannya kedalam bentuk panca indera kita; ada yang melalui getaran, gerakan, rasa, gambaran, tulisan bahkan bertemu diri pribadi.
Melihat itu; jelas sudah Bagi yang memiliki kemampuan memahami segala ciptaanNYA, adalah telah menjalani perintahNYA, yaitu mau belajar dari segala ciptaaNYA, dengan cara/sistem yang berbeda..
Mari kita semua untuk berhenti menghujat apa/siapa yang ada didalam katagori dukun/paranormal khususnya, ustadz,kyai atau nama lainnya yang setara. Mereka semua hanya memiliki kemampuan dalam hal membaca segala Ciptannya (kalam). Kita tidak usah mereka-reka lagi perihal mereka.
Bagaimana perihal Kalam? Mari kita bersama mencoba mengungkap Kalam DIA didalam Thread Kalam Allah.
Kesimpulan kita semua yang mengakui adanya DIA, adalah telah melaksanakan Awal beragama adalah mengenal DIA. Hanya saja mengenal DIA melalui segala ciptaanNYA.
Inilah beda antara Ghaib dan Ciptaannya. Ghaib hanya bisa sebatas disaksikan tanpa pikiran. Apa/siapa yang Ghaib adalah Zat DIA (Allah).
Selama kita belum mengenal Zat DIA, menunjukkan kita telah mengenal DIA melalui Kalam DIA.
Alhamdulillahi…..
Misal ;
Kita semua tahu perihal Syahadat, bahkan kita semua menyatakannya, terlepas salah/benar pemahaman kita perihal Syahadat.
Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Aku bersaksi MUhammad itu utusan Allah.
Bila kita belum memahami apa/siapa yang Ghaib, tetapi kita telah memahami Kalam DIA, akanlah didapat sebuah kesaksian yang bersumber dari Kalam DIA.
Kita bersaksi perihal Allah dan MUhammad adalah bersumber dari Alquran, kitab lainnya, guru, orang tua atau segala ciptaanNYA, yangmana merupakan Kalam DIA. Inilah katagori orang-orang yang mau berfikir terlepas siapa, apakah kyai, ustad, orang tua, dan lainya, bahkan dukun atau paronormal.
Adalah sangat berbahagia, bila kita telah memahami apa/siapa yang Ghaib. Kesaksiannya adalah langsung dari sumber yang hakiki. Tiada kata/kalimat yang dapat diuraikan, bila kita telah mengenal apa/siapa yang Ghaib.
Alif lam mim, alif lam ro, Allahu.
Kaf, ha, ya, ain, sot, ha, mim, ain sin, kof
Bismillaahir rohmaanir rohiim
Alhamdulillahi, subhanahu.















