Kakawin Hariwangsa Kraton Kediri
Penerus
kepujanggaan Empu Sedah adalah Empu Panuluh. Empu Panuluh juga hidup pada masa
pemerintahan Prabu Jayabaya. Dia termasuk pujangga ulung yang produktif dalam
menghasilkan berbagai karya sastra adiluhung. Karya sastra ciptaan Empu Panuluh
di antaranya: Kakawin Bharatayudha, Kakawin Hariwangsa, dan Kakawin
Gathotkacasraya.
Kakawin
Bharatayudha ini merupakan ciptaan duet pujangga:
Empu Sedah dan Empu Panuluh. Syair Kakawin Bharatayudha sungguh sangat
indah. Kakawin Hariwangsa ini berisi tentang kisah percintaan antara
raja Dwarawati dengan Dewi Rukmini dan dipersembahkan kepada Prabu Jayabaya,
yang dipersonifikasikan sebagai tokoh agung titisan Batara Wisnu. Kakawin
Gathotkacasraya ini dibuat pada tahun 1110 Caka atau 1188
Masehi setelah mangkatnya Prabu Jayabaya, yang selanjutnya kerajaan Kediri
diperintah oleh Prabu Jayakerta (Poerbatjaraka, 1957: 24-32).
Kelebihan
Empu Panuluh yang lain adalah waskitha ngerti sadurunge winarah atau
bijaksana mengerti sebelum diajarkan. Pada masa tuanya dia benar-benar hidup
prihatin, mengurangi makan dan tidur, menghindari kenikmatan jasmani dan menjauhi
kehidupan duniawi, sehingga menjelang ajalnya pun dia sudah tanggap. Empu
Panuluh adalah pujangga yang menghormati pujangga lain dan mampu bekerja sama
antar sesama cendekiawan kraton Kediri. Kepada Empu Sedah pendahulunya itu,
Empu Panuluh banyak memuji. Di sini bisa dilihat bahwa pada jaman kerajaan
Kediri, transformasi pemikiran berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana
kaderisasi.
Harimau
mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati
meninggalkan nama. Demikian pula Prabu Jayabaya, ketika beliau muksa, beliau
telah melahirkan jangka atau prediksi spiritual yang dapat digunakan
sebagai panduan untuk membuka tabir tanda-tanda jaman.
Jaman
telah berubah, musim telah beralih, namun selalu saja diikuti oleh kegaduhan
yang menimbulkan huru-hara di sana-sini. Manusia banyak yang bingung linglung, tak
tahu arah akan ke mana hendak melangkah. Dalam bahasa pedalangan kejadian ini
dinamakan gara-gara kang magiri-giri, yang berdampak pada kali ilang
kedhunge, pasar ilang kumandhange. Sebuah masa yang ditandai adanya aksi
tanpa orientasi.
Buku
Ramalan Sakti Prabu Jayabaya ini disusun berdasarkan informasi dari
kitab-kitab kuna yang berisi wejangan-wejangan luhur Prabu Jayabaya, seorang
maharaja Kraton Kediri yang agung binathara, waskitha ngerti sadurunge
winarah. Beliau telah memberi petunjuk bagi manusia untuk membaca perubahan
jaman yang silih berganti.
Gara-gara kang magiri-giri,
sunya gegana tanpa tumingal,
ya meh tekan dalajate,
yen kiamat puniku,
ja majuja laknatullahi,
anuli larang udan,
angin topan brubuh,
tumangkeb sabumi alam,
saking kidul wetan sigra andhatengi,
ambodhol ponang arga.
(Ramalan Prabu Jayabaya)
Terjemahan:
Terjadinya suasana yang kacau balau,
Angkasa tampak gelap gulita,
Sudah hampir tiba,
Waktunya hari kiamat,
Setan laknatullah berkeliaran,
Kemudian jarang hujan,
Angin
taufan kerap menerjang,
Bagaikan
mengempur bumi
Dari
arah tenggara datangnya,
Menghancurkan
gunung-gunung.*
Pelet Bulu Perindu Sukma
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960















