Pelet Bulu Perindu 
Bulu Perindu Asli Kalimantan

Di dalam blog ini akan saya jelaskan tentang khasiat dari Bulu Perindu yang melegenda yang khasiat utamanya adalah sebagai media pengasihan atau pemikat lawan jenis, baik Pria ataupun Wanita. Bulu perindu dapat mengatasi Solusi asmara anda yang kandas, pacar diambil orang, cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara. 

Ciri - ciri keaslian
Jika ditetesi / dibasahi air dan diletakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjubkan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing. Sepasang Bulu Perindu jika didekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling mendekat dan melilit.

Testing Video Keaslian Bulu Perindu Kami


jika anda ada target khusus, saya sarankan anda mengirimkan data ke whatsaap seperti nama panggilan anda dan pasangan. Foto masing-masing anda dan pasangan anda dengan syarat wajah masing-masing harus jelas agar saya mudah mengerjakannya dan cepat hasilnya, boleh foto sendiri atau berdua dengan pasangan anda.

mahar tingkat satu 350.000 sudah ongkos kirim
khasiatnya antara lain.. pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, mengembalikan pasangan yang selingkuh, cocok untuk pria dan wanita.

mahar tingkat Dua 550.000 ribu sudah ongkos kirim
Khusus yang tingkat dua perbedaanya dengan tingkat satu adalah khusus bagi yang sudah berumah tangga atau sudah menikah, mengapa demikian karena power atau bulu perindu tingkat 2 mempunyai power 2x lebih besar dari tingkat 1 karena untuk orang yang sudah menikah rata-rata mempunyai aura yang sudah melemah karena faktor energi cakranya yang meredup akibat sudah seringnya berhubungan badan, jadi dibutuhkan kekuatan ekstra untuk
menggunakan bulu perindu ini.
kekuatan bulu perindu tingkat 2 ini difokuskan untuk mengembalikan pasangan yang selingkuh/pergi dengan laki-laki lain atau sudah tidak cinta lagi
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, mengembalikan pasangan yang selingkuh, cocok untuk pria dan wanita tanpa ritual, puasa dan tanpa pantangan juga bisa di wariskan ke Anak Cucu.

Penjelasan cara pakai :  Untuk hasil dan manfaat 2 hari pakai sudah terasa hasilnya, Anda cukup simpan dalam dompet sesuai niat, karena sudah saya persiapkan sesuai untuk kebutuhan anda, dan juga panduan cara pakai untuk keluhan anda juga lengkap saya kirim via jne atau pos kilat untuk cara pakai minyak cukup oles ke bagian tubuh anda, dimana aja sesuai niat dan tujuan anda, dan saya  lengkapi juga  dengan cara pakai jarak jauh tanpa harus bertemu target anda. Sangat aman tidak ada pantangan atau efek samping dan perawatan khusus.

mahar Minyak Bulu Perindu 650.000 ribu sudah ongkos kirim

Mahar Bulu peirndu tingkat 3 khusus minyak dan sepasang bulu perindu ini dipadukan dengan kekuatan minyak bulu perindu itu sendiri jadi dengan kata lain kekuatannya akan semakin sempurna untuk anda gunakan, khusus untuk minyak bulu perindu ini energinya lebih difokuskan untuk mengembalikan pasangan anda yang sudah berpaling dari anda dan pergi meninggalkan anda/selingkuh ke orang lain.

jika anda ingin datang ke Padepokan  kami yang berada di Jl bakaran batu no 182 lubuk pakam kota (sumut). untuk pengiriman atau pemaharan luar kota media bisa kami kirim ke alamat anda menggunakan jasa jne, pos, jnt dan tiki lama sampai tergantung lokasi tujuan anda untuk kota² besar biasa pengiriman hanya 2 hari saja sampai.

"Disclaimer : Hasil dan manfaat media bulu perindu dan minyak bulu perindu ini akan di jamin hasilnya jika niat dan tujuan anda menggunakannya dengan baik tanpa ada unsur untuk merugikan pasangan anda"

"Bagi Para Pria dan wanita Yang Ingin Berhasil Dalam Mengatasi masalah asmara, jodoh, perselingkuhan, agar di sayang atasan dan juga pelaris usaha, Bisa Menggunakan Bulu Perindu Ini Sebagai Solusi"

setelah transfer Mahar harap konfirmasi sms ke no 0896-6922-9050  sertakan juga no hp dan alamat lengkap saudara untuk memudah kan pengirimam bulu perindu dan Minyak bulu perindu dan tata cara penggunaanya akan di kirim melalui JASA JNE,TIKI DAN POS.

NB: untuk pemohon agar terlebih dahulu mengirimkan pesan WA atau email bulusukmapemungkas@gmail.com dan jika ingin kontak langsung hub atau sms ke no saya.
 
TESTIMONI DARI WA





 

 

 

S








Bukti pengiriman JNE dan Pos Indonesia

Konsultasi Klik di bawah ini



Whatsapp 0896-6922-9050

MAHAR MINYAK BULU PEERINDU |MAHAR PELET MANTRA  |MAHAR PELET FOTO | | MAHAR PELET SEMAR MESEM | MAHAR PUTER GILING|MAHAR PELET TEMPE|TLP/SMS/WA: 0896-6922-9050 

Note: Jika 2 kali panggilan telepon tidak diangkat harap maklum berarti kami sedang sibuk, Silahkan tinggalkan pesan.

Memayu Hayuning Bawana Wejengan Prabu Jayabaya


Memayu Hayuning Bawana

Wejangan lain dari Prabu Jayabaya raja agung Kraton Ke­diri dalam zaman ini adalah sebagai berikut:





1)      Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana.

Banyak berkarya, tanpa menuntut balas jasa, menyela­matkan kesejahteraan dunia.



2)      Manungsa sadrema nglakom, kadya wayang upamane.

Manusia sekedar menjalani, diibaratkan laksana wayang.



3)      Ati suci marganing rahayu.

Hati suci mengarah ke keselamatan.



4)      Ngelmu kang nyata, karya reseping ati.

Pengetahuan yang benar membuat hati kita senang.



5)      Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi.

Berusaha berbuat baik dengan budi yang sentosa.



6)      Jer basuki mawa beya.

Kalau ingin selamat (berhasil) harus ada biayanya (pengorbanan).



7)      Ala lan becik iku dumunung ana awake dhewe.

Baik dan buruk ada pada diri kita sendiri.



8)      Sing sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan.

Barangsiapa lupa akan kebajikan orang lain itu seperti berwatak binatang.



9)      Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan lega­waning ati, darbe sifat ber budi bawaleksana.

Ciri-ciri orang luhur, ialah tingkah laku dan budi bahasa yang halus, keikhlasa hati, dan sedia berkorban, tanpa mendahulukan kepentingan pribadi.



10)  Ngundhuh wohing pakarti.

Memetik hasil perbuatannya.



11)  Ajining dhiri saka lathi lan budi.

Harga diri terletak pada mulut dan budi.



12)  Sing sapa weruh sadurunge winarah lan diakoni sapadha-pa­dhaning tumitah iku kalebu utusaning Hyang Widi. Barangsiapa mengetahui sebelum sesuatu terjadi dan di­akui oleh sesamanya, itu tergolong utusan Tuhan.



13)  Sing sapa durung wikan anane jaman kelanggengan iku, aja ngaku dadi janma linuwih.

Barangsiapa belum tahu akan adanya alam yang abadi, jangan mengaku sebagai orang yang memiliki kelebihan.



14)  Tentrem iku saranane urip aneng donya.

Ketentraman adalah sarana hidup di dunia.



15)  Yitna yuwana lena kena.

Siapa waspada akan selamat, yang lengah akan kena ba­haya.



16)  Ala ketara becik ketitik.

Baik ataupun buruk akhimya akan ketahuan juga.



17)  Dalane waskitha saka niteni.

Sarana untuk menjadi orang waskita (tahu sebelum ter­jadi) adalah melalui pengamatan tekun dan teliti.



18)  Janma tan kena kinira kinaya ngapa.

Manusia tidak dapat diperkirakan ataupun diduga.



19)  Tumrap wong lumuh lan kesed iku prasasat wisa, pangan kang ora bisa ajar iku kena diarani wisa, jalaran mung bakal nuwuhake lelara.

Orang yang malas dan tidak mau belajar itu sama dengan racun, makanan yang tidak dapat dicerna juga disebut racun, sebab hanya akan menimbulkan penyakit.



20)  Klabang iku wisane ana ing sirah, kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging yen durjana wisane dumunung ana ing sekujur badan.

Racun kelabang itu ada di kepala. Racun kalajengking hanya di pucuk ekor. Racun ular hanya ada pada ular yang berbisa. Sedang penjahat racunnya terletak pada seluruh badannya.



21)  Geni murub iku panase ngluwihi panase srengenge, ewa dene umpama ditikelake loco, isih kalah panas tinimbang guneme durjana.

Api yang menyala itu panasnya melebihi panasnya mata­hari, namun demikian walau dilipatkan dug umpamanya, ucapan seorang durjana masih jauh lebih panas.



22)  Sing sapa lena bakal cilaka.

Barangsiapa lengah akan celaka.



23)  Tumrape wong linuwih tansah ngudi keslametaning liyan, metu saka atine dhewe.

Orang utama atas kehendak hatinya sendiri selalu meng­usahakan keselamatan orang lain.



24)  Pangucap iku bisa dadi jalaran kabecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pemitran. Pengucap uga dadi jala­raning wirang.

Ucapan dapat membawa kebaikan, tetapi juga dapat men­jadi penyebab kematlan, kesengsaraan, persahabatan. Ucapan juga dapat menjadi penyebab malu.



25)  Sing bisa gawe mendem iku: 1) rupa endah, 2) bandha, 3) da­rah luhur, 4) enom umure. Arak lan kekenthelan uga gawe mendhem sadhengah wong. Yen ana wong sugih, endah warnane, akeh kapinterane, tumpuk-tumpuk bandhane, luhur darah lan isi enom umure, mangka ora mendhem, yakuwi aran wong linuwih.

Yang dapat menyebabkan mabuk adalah: 1) rupa cantik/ bagus, 2) harta, 3) kebangsawanan, 4) usia muda. Arak dan lain-lain minuman keras juga dapat membuat mabuk orang. Jikalau ada orang kaya, rupawan, pandai, berhar­ta, bangsawan lagi pula masih muda, padahal tidak ma­buk, itu dinamakan orang yang berwatak utama.



26)  Mulat salira, tansah eling kalawan waspada.

Mawas diri, selalu ingat dan waspada.



27)  Andhap asor

Merendahkan diri.



28)  Ngelmu pari saya isi saya tumungkul.

Ilmu padi makin berisi makin merunduk.



29)  Ngelmu kang nyata gawe reseping ati.

Ilmu yang benar dapat membuat hati senang.



30)  Dadiya wong luhur bebudene

Jadilah orang yang berbudi luhur.



31)  Abot entheng saka panggawene dhewe.

Berat ringan itu akibat perbuatan sendiri.



32)  Wong mati iku bandhane ora digawa.

Orang meninggal tidak akan membawa harta bendanya.



33)  Wong ala iku kang ora gelem nyambut gawe kang prayoga.

Orang yang tidak baik itu adalah tidak mau bekerja wajar.



34)  Sing lah marang panggawe kang becik bakal nemoni cilaka.

Barangsiapa lupa akan perbuatan yang baik akan mene­mui malapetaka.



35)  Sing sapa durung weruh dununge urip, nanging tansah memada marang piyandeling liyan, bakal nemoni cilaka.

Barangsiapa belum mengetahui hakikat hidup, tetapi se­lalu mencela kepercayaan orang lain, akan menemui celaka.



36)  Sing sapa wedi marang barang kang ora bener, tur gelem ngilangi watak kang kurang prayoga, iku kalebu bathara.

Barangsiapa takut berbuat tidak benar, lagi pula suka menghilangkan watak yang kurang pantas, itu tergolong bathara (dewa).



37)  Sing sapa durung sumurup kang diarani bathara uga durung sumurup dununging urip.

Barangsiapa belum mengetahui yang disebut bathara juga belum mengetahui hakikat hidup sebenarnya.



38)  Sing sapa weruh dununging ala lan becik, nanging rumangsa becik dhewe, iku bakal nemoni cilaka.

Barangsiapa mengerti perihal baik-buruk, tapi merasa dirinya paling baik, akan menemui celaka.



39)  Wong iku tansah karidhu Bening dhemit lan banaspati lamun tansah senang gawe seriking liyan.

Orang itu selalu digoda oleh dhemit dan banaspati, kalau ia selalu senang membuat sakit hati orang lain.



40)  Setan iku watak kang ala, dhemit iku watak kang kurang pra­yoga, banaspati iku watak kang gawe seriking liyan. Dadi yen janma manungsa kang tansah nguja watak kang kaya mengkono iku pancen kancane setan, dhemit lan banaspati. Dene wong kang ora gelem nguja watak kang mengkono kalebu dewa kang ngejawantah. Sira aja darbe watak kang ala kaya kuwi mau, jalaran watak kang ala kaya mengkono iku dadi sirikaning wong kang ngudi kamulyan.

Setan itu watak yang tidak baik, dhemit itu watak yang tidak pantas, banaspati itu watak yang selalu membuat sakit hati orang lain. Jadi orang yang berwatak demikian itu memang temannya setan, dhemit, banaspati. Sedang­kan orang yang tidak suka membiarkan watak demikian, termasuk dewa yang menjelma. Engkau jangan berwatak jelek begitu, karena itu merupakan pantangan bagi orang yang mencari kemuliaan.



41)  Wong kang ora gelem ngudi kamulyan urip, iku wong kang se­neng nguja hawa napsune.

Orang yang tidak suka mencapai kemuliaan hidup itu termasuk orang yang suka melampiaskan hawa nafsunya.



42)  Kamulyaning urip iku dumunung ana tentreming ati.

Kemuliaan hidup itu berada pada ketentraman hati.



43)  Wong kang mung nguja hawa napsu iku mung gawe seneng babagan hawa napsu, dene atine ora tentrem amarga tansah kelingan marga tumindake kang ora prayoga.

Orang yang hanya melampiaskan nafsu itu, hanya me­mentingkan hawa nafsunya, sedang hatinya tidak ten­teram, karena selalu ingat akan tindakannya yang tidak pantas.



44)  Wong iku kudu ngudi kabecikan, jalaran kabecikan iku sangu­ning urip.

Orang itu harus berusaha mencari kebaikan, sebab ke­baikan itu bekal hidup.



45)  Wong kang ora gelem ngudi kabecikan iku prasasat setan.

Orang yang tidak mau berusaha mencari kebaikan itu laksana setan.



46)  Sing gelem ngudi kautamaning urip mesthi didohi dhemit.

Barangsiapa mau berusaha mencapai keutamaan hidup pasti dijauhi dhemit.



47)  Wong linuwih iku ambek welas lan sugih pangapura.

Orang berjiwa luhur itu mempunyai sifat belas kasihan dan suka memaafkan.



48)  Sing sapa lali marang kabecikaning liyan, ing tembe bisa urip sengsara.

Barangsiapa lupa terhadap kebaikan orang lain kelak akan hidup sengsara.



49)  Sing sapa wedi ing luput wani ing bener, iku kalebu manungsa linuwih.

Barangsiapa takut berbuat salah dan berani berbuat be­nar, itu tergolong manusia utama.



50)  Sing sapa wani ing luput wedi ing bener, iku kalebu manungsa kang sengsara ing tembe mburine.

Barangsiapa berani berbuat salah dan takut berbuat benar, itu tergolong manusia yang sengsara di kemudian hari.



51)  Perang tumrap awake dhewe iku lamun ora bisa meper hawa nepsu.

Perang terhadap diri sendiri itu terjadi kalau tidak dapat mengekang hawa nafsunya.



52)  Ngelmu iku kelakone kanthi laku, senajan akeh ngelmune lamun ora ditangkarake lan ora digunakake, ngelmu iku tanpa guna.

Ilmu itu terlaksananya dengan perbuatan, biarpun banyak ilmunya kalau tidak diamalkan dan tidak dipergunakan, ilmu itu tidak berguna.



53)  Dadi gawening liyan iku sasat nelangsaning sapadha-padha.

Menjadi beban orang lain berarti membuat sengsara sesamanya.



54)  Wong kang weruh sadurunge winarah, kang ora cocog karo tu­mindake, iku satemene ilmu karang.

Orang yang tahu sebelumnya terjadi tapi tidak cocok de­ngan tingkah lakunya, itu sebenarnya berilmu karang.



55)  Turuten pituture wong tuwa.

Ikutilah nasehat orang tua.



56)  Wong kang ora weruh tata-krama uga negara, iku padha karo ora bisa ngrasakake rasa nem warna (legi, kecut, asin, pedhes, sepet lan pahit).

Orang yang tidak tahu sopan santun dan penuturan, itu sama dengan tidak dapat merasakan enam macam rasa (manis, asam, asin, pedas, sepet dan pahit).



57)  Wong kang sepi ing kawruh samangsa ana pasamuan kang ngrembug kawruh, mesthi meneng was kaya wong bisu, marga ora mudheng.

Orang yang kurang pengetahuannya, dalam pertemuan yang membicarakan soal ilmu pasti diam saja seperti orang bisu, sebab tidak mengerti apa-apa.



58)  Wong kang bodho lan mlarat ilmu, yen kumpul karo wong akeh iku kaya dene wisa, marga mung nambahi gelaning ati.

Orang yang bodoh dan miskin ilmu, kalau berkumpul dengan orang banyak, itu seperti racun, sebab hanya me­nambah kekecewaan saja.



59)  Wong linuwih iku kudu bisa apik ati lan ngepenakake atining liyan. Yen kumpul karo wanita kudu bisa ngetrapake tembung kang manis, kang bisa gawe senenging ati. Yen kumpul karo pendhita kudu bisa ngomongake kang becik. Yen ana sangareping mungsuh, kudu bisa ngatonake kewanenane.

Orang yang arif bijaksana itu harus dapat mengambil hati dan menyenangkan hati orang lain. Kalau berkumpul de­ngan wanita harus dapat menggunakan kata-kata yang manis, yang dapat menarik hati. Kalau berkumpul de­ngan pendeta harus dapat membicarakan hal-hal yang baik. Kalau berhadapan dengan musuh, harus dapat memperlihatkan keberanlannya.



60)  Wisane ula galak tawar dening mantra kang ngetokake banyu panguripan.

Bisa ular ganas dapat hilang oleh mantera yang menge­luarkan air yang menghidupi.



61)  Yen arep weruh trahing ngaluhur, titiken alusing tingkah-laku budi basane.

Untuk mengenali keturunan orang luhur, perhatikan ke­halusan tingkah-laku dan budi bahasanya.



62)  Titikane wong putus ngelmu, basa kang bisa gawe tentrem Lan bungahing hyan.

Ciri orang yang berilmu luas ialah bahasa yang dapat membuat tenteram dan menggembirakan hati orang lain.



63)  Wong pinter Hanging ala tumindake, senenge karo wong ala.

Orang pandai tapi bertabiat jelek, kegemarannya bersa­ma dengan orang jahat.



64)  Wong tuwa umure, asor kelakuane, iku ora miturut piwulang sing bener.

Orang yang berumur, tetapi jelek tabiatnya, itu tidak sesuai dengan ajaran yang benar.



65)  Manuk kang dadi cacadan iku gagak, awit saka olehe candhala atine (nistha ala atine).

Burung yang tercela itu gagak, sebab hatinya jahat.



66)  Jun yen lokak (ora kebak) kocak, yen kebak anteng.

Jun (sejenis tempayan) yang tidak penuh bergoyang, ka­lau penuh ia tenang.



67)  Sabegja-begjane kang lali luwih begja kang eling klawan waspada.

Seuntung-untungnya orang yang lupa, lebih untung orang yang selalu ingat dan waspada.



68)  Sing sapa salah seleh.

Barangsiapa yang salah akhirnya menyerah.



69)  Nglurug tanpa bala.

Menyerang tanpa pasukan.



70)  Sugih ora nyimpen.

Kaya tanpa menyimpan harta.



71)  Sakti tanpa maguru.

Sakti tanpa berguru.



72)  Menang tanpa ngasorake.

Unggul tanpa mengalahkan.



73)  Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Rawe-rawe rantas malang-malang putung (melintang patah, membujur lalu)



74)  Mumpung anom ngudiya laku utama.

Selagi masih muda upayakanlah laku utama.



75)  Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kabecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan.

Jikalau orang lain berbuat baik terhadapmu, tulislah (pa­hatlah) di batu, agar tidak hilang dan selalu ingat. Kalau engkau berbuat baik kepada orang lain, tulislah di tanah, agar cepat hilang dan tidak diingat.



76)  Sing sapa temen tinemu.

Barangsiapa jujur akan didapat (akan kelihatan pada akhirnya).



77)  Milik nggendhong lali

Ingin sekali, menyebabkan lupa



78)  Kudu sentosa ing budi

Harus berbudi sentosa



79)  Sing prasaja

Bersahajalah



80)  Balilu tau pinter durung nglakoni.

Berani melaksanakan sesuatu tidak jarang lebih baik da­ripada sekedar menguasai dalil-dalilnya.



81)  Tumindak kanthi duga lan prayoga.

Bertindak harus dipikir dan dipertimbangkan.



82)  Precaya marang dhiri pribadi.

Percaya pada diri pribadi.



83)  Nandur kebecikan.

Menanam kebaikan.



84)  Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik.

Nara utama dapat mengetahui clam abadi tanpa me­ninggal terlebih dahulu.



85)  Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku du rung weruh jatining Hyang Widi.

Barangsiapa hanya mengakui barang yang terlihat oleh mata saja, itu berarti belum mengerti hakikat Tuhan.



86)  Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter jalaran manawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.

Jikalau engkau mempunyai ilmu yang menyebabkan ba­nyak orang suka padamu, janganlah engkau merasa pal­ing pandai, sebab kalau Tuhan mengambil kembali ilmu yang menyebabkan engkau tersohor itu, engkau menjadi tak berbeda seperti yang lain, bahkan nilainya menjadi di bawah nilai daun jati yang sudah kering.



87)  Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwih gedhe katimbang apa kang wis ditindakake.

Barangsiapa suka membuat senang orang lain, ia akan mendapat balasan yang lebih banyak daripada yang ia lakukan.



88)  Sapi kang seru lan angor swarane, mesthi sethithik powange.

Sapi yang keras dan parau suaranya, pasti sedikit air su­sunya.



89)  Tumrap wong putus ngelmu, sesaji iku perlu kanggo rahayu­ning jagad.

Bagi orang yang berilmu luas, sesaji itu perlu demi kese­lamatan dunia.



90)  Mungsuhmu kasoran, yen balamu tansah wani.

Musuhmu kalah apabila tentaramu pemberani.



91)  Tetep anteping budi lan kencenging tekad iku wohing kawruh.

Kemantapan budi dan keteguhan tekad adalah hasil (bu­ah) pengetahuan.



92)  Ora ana mitra kang ngungkuli kagunan kang luhung lan maedahi.

Tidak ada sahabat yang melebihi kepandalan yang tinggi dan berfaedah.



93)  Ora ana satru kang luwih, mbebayani tinimbang ala kang dumunung ana atine dhewe.

Tidak ada seteru yang lebih berbahaya daripada keja­hatan yang ada pada diri pribadi.



94)  Tepa palupi lan piwulang kang dipundhi dhewe iku piwulang sing bener.

Suri teladan dan ajaran yang paling dijunjung tinggi ada­lah ajaran yang benar.



95)  Enoma, bagusa, isih darah lan warasa kae, yen kapinterane ora duwe, kucem raine, tanpa cahya, ora beda kayo kembang randhu alas kang abang branang ora wangi ora barang.

Biarpun muda, tampan, bangsawan dan sehat, tetapi ka­lau tidak mempunyai kepandalan, pucat mukanya, tanpa cahaya, tidak berbeda dengan bunga randu alas, merah padam, tapi sama sekah tidak harum.



96)  Titikane trahing ngawirya, solah tingkah kang tata.

Ciri keturunan orang yang mulia adalah tingkah-laku yang tertib.



97)  Titikane pangan kang becik, kang bisa gawe weweging sarira.

Tandanya makanan yang baik adalah yang dapat mem­buat badan kuat dan segar.



98)  Wong kendel sing unggul ing perang iku padha nemu seneng, mulya lan kaluwihan.

Orang yang pemberani dan jaya dalam peperangan itu menemui kesenangan, kemuliaan dan kelebihan.



99)  Sing sapa wani ngungkuli kesuclane wong suci sewn, iku lagi kena disebut wong suci, yakuwi kang prayoga disuyudi wong sejagad, kena disebut sejatine pinisepuh.

Barangsiapa berani melebihi kesuclan orang suci seribu, baru dapat disebut orang suci, yaitu pantas dihormati orang sejagad, dapat disebut sesepuh sejati.



100)  Wong utama wajib ndandani dhayoh kang mlarat mangan lan ngrengga patilasan-patilasan leluhur kang wus rusak, supaya kena dienggo maneh.

Orang utama wajib menolong orang miskin yang kurang makan dan merawat peninggalan-peninggalan leluhur yang sudah rusak, agar supaya dapat dipakai lagi.



101)  Yen wong tuna susila weruh isin, sajake bakal suda tumindak tuna susila, mesthi bakal ilang, nanging yen wong utama ora idhep isin, bakal ilang utamane.

Kalau orang tuna susila tahu malu, rupa-rupanya akan makin kurang tuna susilanya, akhirnya dapat hilang, tapi kalau orang utama tidak tahu malu, akan hilang keutama­annya.



102)  Salawase isih dadi murid, sing diudi kudu kaweruh lan kautaman. Yen wis diwasa ngudiya omah-omah lan neterpi janji.

Selama masih menjadi murid, yang dicari harus ilmu dan keutamaan, Kalau sudah dewasa menikahlah dan selalu menepati janji.

103)  Pituwase wong meneng iku bandha. Sing sapa galak pangucapa­ne, bakal nemu sengsara. Dene sing meneng bakal diweleg ban­dha. Wong meneng damar pindhane.

Hasilnya orang pendiam itu harta. Barangsiapa kasar ucapannya, akan menemui sengasar. Sedangkan orang yang pendiam akan dilimpahi harta. Orang pendiam itu pelita ibaratnya.



104)  Ing donya iki ana lima cacahe bapa, yakuwi:

(1)   Bapa sing ngukir kowe.

(2)   Bapa sing ngentas umurmu saka bebaya.

(3)   Bapa sing ngingoni salawase tanpa diwales.

(4)   Bapa sing ngajar yakuwi guru.

(5)   Bapa kang ngucekake kowe.

Di dunia ini ada lima yang dapat disebut bapak, yaitu:

(1)   Bapak kandung.

(2)   Bapak yang menolong kamu dari bahaya.

(3)   Bapak yang selamanya memelihara kamu, tanpa minta balasan.

(4)   Bapak yang mengajar kamu yaitu guru.

(5)   Bapak yang menyucikan kamu.



105)  Wong asor lan bodho iku bisane keringan mung ana awake dhewe. Panggedhening negara dialem kuwasa, kendel lan pinter yen ana daerahe. Nanging yen wong suci atine, ana sadhengah pang­gonan dipundhi-pundhi lan diunggulake.

Orang yang rendah dan bodoh hanya dapat memperoleh kehormatan dari dirinya sendiri. Pembesar negara dipuji berkuasa, berani dan pandai kalau berada di daerahnya sendiri. Tapi orang yang suci hatinya, di mana-mana diagung-agungkan.



106)  Sing saga weruh marang kebeneran iku kalebu wong wasis, na­nging wong kang ora ngerti marang bebeneran iku kalebu wong bodho.

Barangsiapa tahu apa yang disebut benar termasuk orang pandai, tapi orang yang tidak tahu itu tergolong orang bodoh.



107)  Dawa umure nanging ora tentrem atine iku kayo dene dikunjara.

Orang panjang umurnya tapi tidak tenteram hatinya itu seperti dipenjara.



108)  Priya utawa wanita dalane mulya lamun darbe sipat memayu rahayuning sasama. Priya utawa wanita dalane cilaka lamun darbe watak seneng nerak pager ayu.

Pria atau wanita akan mencapai kemuliaan kalau mempu­nyai sifat yang dapat membahagiakan hati sesamanya. Pria atau wanita akan celaka kalau suka berlaku zinc.



109)  Pandhi ta kudu bisa meper hawa napsune, pamepere hawa napsu sarana ngilangi karep kang kurang prayoga.

Pendeta harus dapat mengekang hawa nafsu, (menge­kang hawa nafsu) dengan menghilangkan kehendak yang tidak sepantasnya.



110)  Lamun ana pepetenging ati, aja seneng muring-muring, na­nging ngudia pepadhang saka Gustinira pribadi.

Kalau hati sedang gelap, janganlah malah marah-marah, tapi mintalah penerangan dari Tuhan.



111)  Sengsara uripe iku ana rong warna, kapisan merga digawe dhewe, kapindho merga saka penggawening liyan. Kang kapisan iku ibarate tanem tuwuh kang Iagi kodanan kepanasan ora diopeni, nanging kang kapindho ngibaratake tanem kang tansah diepek asile nganti ora kober thukul godhonge.

Hidup sengsara itu ada dua macam, pertama karena diri­nya sendiri, kedua karena perbuatan orang lain. Yang pertama itu ibarat tanaman yang kehujanan dan kepa­nasan tanpa dipelihara, tapi yang kedua ibarat tanaman yang selalu diambil hasilnya sehingga tidak sempat tum­buh daunnya.



112)  Yen sira ketemu wong kang sengsara marga saka karepe dhewe iku aja kesusu sira tulungi, jalaran durung mesthi ketrima, na­nging yen sengsara marga pokaling liyan enggal tulungana, awit mesthi ketrimane.

Kalau engkau menemukan orang sengsara karena per­buatan sendiri, engkau jangan tergesa-gesa memberi per­tolongan, sebab belum tentu diterima baik, tapi kalau orang yang menderita kesengsaraan itu akibat ulah orang lain atau bukan karena perbuatannya sendiri, tolonglah ia segera, sebab pasti diterima baik.



113)  Kewan iku kayo dene manungsa, darbe kesenengan lan uga darbe kesusahan.

Binatang itu seperti manusia, mempunyai kesenangan dan juga mempunyai kesusahan.



114)  Sing sapa seneng mateni kewan kang ora ana sebabe, iku uga bakal nemu pituwas kang ora prayoga.

Barangsiapa suka membunuh binatang tanpa sebab, juga akan memperoleh akibat yang tidak layak.



115)  Seneng mateni kewan iku kalebu manungsa kang kurang pra­yoga. Mula saka iku aja nganti dadi tukang mateni kewan.

Siapa gemar membunuh binatang (tanpa sebab) itu tergo­long manusia yang tidak baik. Oleh karena itu sedapat mungkin jangan sampai menjadi pembunuh binatang.



116)  Pocapan iku ana rong prakara kang becik, kang kapisan marga wis gawe beciking liyan, kapindho marga wis munggah pangkat utawa drajat saka pakarti kang apik, dene pocapan liyane durung mesthi kalebu kang apik.

Menjadi pembicaraan orang itu ada dua hal yang baik, yang pertama lantaran sudah berbuat kebajikan terhadap orang lain, kedua sebab naik pangkat atau derajat karena pekerjaan yang baik. Sedang yang lain belum tentu baik.



117)  Bisa ngowahi kahanan iku beda kayo wani ngowahi kahanan, jalaran bisa durung mesthi wani.

Mampu mengubah keadaan itu berbeda dengan berani mengubah keadaan, sebab dapat belum tentu berani.



118)  Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan uga gelem lelaku iku ing tembe bakal tampa nugrahaning Hyang Widi.

Barangsiapa mau menjalankan kebaikan dan juga suka menjalani tapa brata (prihatin), kelak mendapat anugerah dari Tuhan.



119)  Ing ngalam donya iki ana rong rupa kekarepaning bapa-biyung, kapisan bapa-biyung kang nyarujuki anake sugih lan pangkat, kapindho bapa-biyung kang ora nyarujuki anake sugih lan pang­kat, angger bisa urip kepenak. Dene kang apik dhewe tumraping wong kang lumrah iku milih kepenak uripe, jalaran sugih lan pangkat durung mesti kepenak uripe.

Di dunia ini ada dua macam kemauan bapak-ibu, perta­ma, bapak-ibu yang menginginkan anaknya kaya dan ber­pangkat, kedua, bapak-ibu yang tidak mengharapkan anaknya kaya dan berpangkat, melainkan asal dapat enak hidupnya. Sedangkan yang terbaik untuk orang biasa adalah yang enak hidupnya, sebab kaya dan berpangkat belum tentu enak hidupnya.



120)  Nanging tumrape wong kang darbe gegayuhan luhur, sing di­jangka iku kepenak uripe lan uga kasinungan bandha lan kasi­nungan drajat.

Tetapi bagi orang yang bercita-cita luhur yang dicita-ci­takan itu adalah enak hidupnya dan juga dlanugerahi harta dan derajat.



121)  Kawruh kang marakake reseping atining sasama iku kawruh donya kang mupangati.

Ilmu pengetahuan yang dapat mengenakkan hati sesamanya itu adalah ilmu pengetahuan yang berfaedah.



122)  Aneng donya iki goleka kawruh utama, kang bisa gawe ten­treming jagad, lamun ana wong kang kurang kawruh donya iku, ku, prasasat dhemit kang kepengin gawe rusaking manungsa.

Di dunia ini carilah ilmu pengetahuan yang utama, yang dapat menenteramkan jagad. Kalau ada orang yang ku­rang menghargai ilmu keduniawlan yang demikian itu, ibarat dhemit yang ingin membuat rusak manusia.



123)  Perang kalawan sadulur iku ora becik, mula aja seneng perang kalawan sadulur.

Perang dengan saudara itu tidak baik, oleh karena itu jangan suka perang antar saudara.



124)  Perang kalawan sedulur iku becik, lamun ana sedulur kang digu­nakake mungsuh kanggo ngrusak negarane dhewe.

Perang melawan saudara itu baru baik, kalau ada saudara yang dipergunakan musuh untuk merusak negaranya sendiri.



125)  Perang sejatine mung kepengin golek endi sing bener lan endi sing luput.

Perang itu hakikatnya hanya mencari mana yang benar dan mana yang salah.



126)  Lamun sira bisa meper hawa napsu ateges perange menang, lamun ora bisa meper hawa napsu ateges perange kalah.

Kalau engkau dapat mengekang hawa nafsu berarti pe­rangmu menang, tapi kalau tidak dapat mengekang hawa nafsu itu berarti perangmu kalah.



127)  Sing sapa rumangsa pinter dhewe sejatine kapinteran siji.

Barangsiapa merasa paling pandai itu sesungguhnya yang paling bodoh.



128)  Mula senajan sira kaloka tumraping kapinteran siji, aja sira rumangsa pinter.

Oleh karena itu sekalipun engkau telah terkenal di salah satu bidang ilmu, jangan merasa pandai.



129)  Aja sira sumelang marga ora dipaelu ilmumu, jalaran yen ana wolak-waliking jaman, ngelmu kang sira darbeni iku bisa uga malah nguwasani donya iki, lamun iku pancen ngelmu kang murakabi manungsa sadonya.

Jangan kecewa sebab ilmumu tidak dihargai, sebab kalau ada perubahan zaman mungkin ilmu yang kau miliki itu malahan dapat menguasai dunia, kalau memang ilmu itu berguna untuk manusia sedunia.



130)  Lamun enggal bisa migunakake ngelmu kudu disaranani tememen, jalaran lamun ora mengkono ngelmu iku tanpa guna.

Jikalau ingin segera menggunakan ilmu, harus disertai ketekunan, sebab kalau tidak demikian ilmu itu tidak berguna.



131)  Sing saga gelem gawe becik Lan uga gelem gawe ala, iku ditim­bang endi sing akeh, becike apa alane iku bakal ngunduh woke dhewe-dhewe.

Barangsiapa senang berbuat baik maupun berbuat jahat, itu ditimbang mana yang banyak, yang baik ataukah yang jahat, itu semua akan memetik hasilnya sendiri.



132)  Darbe kawruh kang ora ditangkarake, bareng mati tanpa tilas.

Mempunyai kepandalan yang tidak diamalkan, setelah ia meninggal tiada bekas.



133)  Yen nyenyamahi wong suci bakal cedhak patine, kaya piring tumiba ing watu.

Kalau menghina orang suci akan dekat ajalnya, seperti piring jatuh di batu.



134)  Tegal yen tanpa suket methi tininggal ing raja kaya, ora ana kewan kang gelem saba mrana. Kali asat ora ana banyune, mesthi tininggal ing kuntul, maune dadi ambah-ambahane. Wong lanang kang nistha papa, mesthi tininggal ing rabine. Mengkono uga ratu kang ora titi priksa lan ambeg siya, mesthi tininggal kawulane.

Ladang kalau tanpa rumput pasti ditinggalkan ternak, tidak ada binatang yang suka ke sana. Sungai yang kering, tidak berair, pasti ditinggalkan burung kuntul, yang tadinya memakainya sebagai tempat pijaknya. Orang laki­-laki yang hina papa, pasti ditinggalkan istrinya, demikia pula raja yang tidak tid periksa dan kejam, pasti ditinggal­kan oleh rakyatnya (kawulanya).



135)  Wong kang ora ngerti marang trapsila klebu wong kang ora perlu dicedhaki.

Orang yang tidak mengerti tata susila tergolong orang yang tidak perlu didekati.



136)  Cedhak marang wong kang ora trap silo bakal nulari awake dhewe.

Dekat-dekat orang yang tidak mengerti tata susila akan menulari dirinya.

137)  Dora sing ora kena paukuman ana limang werna:

(1)   Manawa pinuju among suka ana jagongan

(2)   Nalika dadi penganten bakda ketemu sepisanan.

(3)   Menawa perlu kanggo ngreksa bandha.

(4)   Yen perlu kanggo ngreksa umur

(5)   Yen perlu kanggo ngreksa tentreming kulawarga

Dora limang werna iku diarani dora sembada (goroh wenang). Dora liyane kena paukuman.

Bohong yang tidak kena hukuman ada lima macam:

(1)   Kalau sedang ada di pertemuan.

(2)   Ketika jadi pengantin sehabis dipertemukan pertama kali

(3)   Kalau perlu untuk menjaga harga benda.

(4)   Kalau diperlukan untuk menjaga umur.

(5)   Kalau perlu untuk menjaga ketentraman keluarga.

Bohong lima macam itu disebut bohong sembada. Bo­hong lainnya mendapat hukuman.



138)  Dudu wong becik lamun ora gelem mawas dhiri pribadine.

Orang yang tidak mau mawas diri pribadinya, itu bukan orang baik.



139)  Wong urip ora tentrem kepengin enggal mati. Dene wong urip tentrem seneng dawa umure.

Orang yang tidak tenteram hidupnya ingin segera mati, sedang yang tenteram hidupnya ingin panjang umurnya.



140)  Ngelmu karang iku amarga migunakake angkara murka.

Ilmu karang itu menggunakan angkara murka.



141)  Sing sapa ngerteni yen ngelmu karang iku mbebayani, iku kago­long wong kang wicaksana.

Barangsiapa tabu bahwa ilmu karang itu berbahaya, itu tergolong orang yang bijaksana.



142)  Sing sapa ngudi kautaman, upayanen ngelmu kang karya tentreming ati.

Barangsiapa mencari keutamaan, usahakan ilmu yang dapat menenteramkan hati.



143)  Sing sapa lali marang barang kang becik tapi kelingan barang kang ala, bakal nemoni cilaka.

Barangsiapa melupakan hal-hal yang baik dan ingat hal‑hal yang jahat akan celaka.



144)  Piyandel kang ora cocog kayo kahanan iku dudu piyandel kang nyata.

Kepercayaan yang tidak cocok dengan keadaan, itu bukan kepercayaan yang nyata.



145)  Akeh wong kang wedi kahanan perang, awit hokum kang becik akeh kang ora kanggo, mula banjur wedi perang. Iku kabeh kehru, jalaran alaran perang iku uga kepingin mbelani kabeneran.

Banyak orang yang takut pada keadaan perang, sebab yang baik tidak dipakai, oleh karena itu lalu takut ada perang. Itu semua keliru sebab perang itu juga ingin membela yang benar.



146)  Lamun ana perang, kang kanggo hukum perang, mula aja gu­mun menawa akeh wong kang ora seneng. Mula aja nganti ana perang yen emoh hukum perang.

Jikalau ada peperangan yang berlaku hukum perang, oleh karena itu jangan heran kalau banyak yang tidak sedang. Oleh sebab itu jangan sampai ada perang kalau tidak ingin hukum perang berlaku.



147)  Kaduk wanz kurang deduga

Terlalu berani tapi tanpa perhitungan.



148)  Sakabehing kawruh kang ora bener iku aja dienggo, jalaran bakal ngrusak pager ayu, lan uga bisa ngrusak kahanan kang apik se­jene.

Segala ilmu yang tidak baik jangan dipakai sebab dapat merusak kebahagiaan orang lain dan juga dapat merusak keadaan yang baik lainnya.



149)  Sing sapa mung arep, oleh wae, nanging emoh kelangan, iku aran wong kesed, iku kabeh aja ditiru, jalaran kulawarga lan bangsa uga rugi.

Barangsiapa hanya, ingin sesuatu tetapi tidak mau ber­korban itu berarti di malas. Itu jangan ditiru, sebab ke­luarga dan bangsa yang akan rugi.



150)  Titikane mitra darma, keladuking panyubasuba.

Tandanya sahabat yang baik adalah penghormatan ber­lebih tidak menjadi soal.



151)  Titikane aluhur, alusing bebuden lan legawaning ati.

Tandanya orang yang luhur, budinya halus dan suka memberi pertolongan dengan tulus hati.



152)  Wong becik ora keno mangan daging kang ora suci, kudu nyirik sembarang kang dadi regeding awak utawa cedhaking satru lahir batin.

Orang baik tidak boleh makan daging yang tidak suci, harus pantang terhadap apa saja yang menjadikan badan kotor atau yang mendekatkan seteru lahir-batin.



153)  Panggawe ala lan panggawe becik iku tut wuri lan tuduh dalan nganti delahan. Mula wong iku mumpung urip ngudia kabecikan, supaya dadi sarana bisane oleh swarga.

Perbuatan buruk dan baik itu mengikutimu dan menun­jukkan jalan sampai ajal. Oleh karena itu selagi masih hi­dup, jalankan perbuatan yang baik, agar menjadi sarana memperoleh tempat di surga.



154)  Yen madu kaworan wisa iku, limbangen, jupuken madune. Yen emas kaworan rereged, jupuken emase banjur kumbahen. Golek­ana lan tuladhanen kautaman lan piwulang becik, senajan du­munung ana wong asor.

Kalau madu kecampuran racun, ambillah madunya. Kalau emas kecampuran kotoran, ambillah emasnya kemudian cucilah. Carilah dan ikutilah keutamaan, ajaran yang baik, meskipun berasal dari orang rendah.



155)  Rembulan lan lintang iku dadi pepadhanging wengi, srengenge iku ku dadi pepadhanging rahina. Kawruh piwulang lan angger­angger iku dadi pepadhanging  jagad tetelu. Anak kang mursid iku dadi pepadhanging kadang lan kulawarga.

Bulan dan bintang itu memberi penerangan di malam hari, matahari memberi penerangan di Slang hari. Penge­tahuan, ajaran dan peraturan-peraturan itu memberi pe­nerangan jagad ketiga-tiganya. Anak yang utama hidup­nya menjadi penerangan terhadap sanak saudara, dan keluarga.



156)  Tumindak aja nganti getup mburine.

Berbuat sesuatu jangan sampai kecewa di belakang hari.



157)  Tumindak kudu manut kala mangsa.

Berbuat sesuatu harus mempertimbangkan suasana dan waktu.



158)  Gawe rusak ora becik. Denegawe rusaking mungsuh dudu barang kang aneh.

Membuat rusak tidak baik. Sedang membuat rusak mu­suh itu bukan hal yang aneh.



159)  Mungsuh sing wis nungkul aja dipateni.

Musuh yang sudah menyerah jangan dibunuh.



160)  Sing sapa mung arep menange dhewe, kuwi nemahi cilaka.

Barangsiapa ingin menang sendiri, itu akan celaka.



161)  Sing sapa gelem mbuwang ngelmu karang bakal nemoni ka­becikan.

Barangsiapa berani membuangkan ilmu karang akan me­nemui kebahagiaan.



162)  Sing sapa mung arep gawe seriking liyan, kuwi uga arep nemahi cilaka.

Barang siapa yang hanya akan membuat sakit hati orang lain, itu juga akan celaka.



163)  Sing sapa seneng udur, iku bakal kena bebendu dening liyang Widi.

Barangsiapa suka bertengkar, akan kena amarah Tuhan.



164)  Sing sapa senenggawe nelangsaning liyan, iku ing tembe bakal kena piwalese saka penggawene dhewe.

Barangsiapa gemar membuat sengsara orang lain, akhir­nya ia akan mendapat pembalasan dari perbuatan sendiri.



165)  Wani marang penggawe kang ora bener kuwi kagolong titah kang ora becik tumindake.

Berani menjalankan pekerjaan yang tidak baik itu tergo­long makhluk yang tidak baik tabiatnya.



166)  Sira kudu mituhu marang pitutur kang bener.

Engkau harus mengikuti nasihat yang benar.

167)  Lamun sira mung seneng dialem wae, ing tembe ketemu bab-­bab kang kurang prayoga.

Kalau engkau hanya ingin mendapat pujlan saja, akhirnya akan menjumpai hal-hal yang tidak baik.

168)  Muring-muring iku dalane antuk pepeteng, mula sing sapa seneng muring ora bakal antuk pepadhang.

Suka marah adalah jalan kegelapan, oleh karma itu ba­ransiapa menjadi pemarah tidak akan mendapatkan terang.

169)  Perang iku tanpa guna lamun asile ora ana. Migunam yen asile ana.

Perang itu tidak berguna kalau hasilnya tidak ada. Berguna kalau ada hasilnya.

170)  Sing sapa seneng nyidrani janji, iku bakal kena piwalese saka asil penggawene dhewe.

Barangsiapa suka ingkar janji, akan mendapat pembalasan dari hasil perbuatannya sendiri.

171)  Angrembuga kang perlu kewala.

Berbicaralah yang perlu-perlu saja.

172)  Wani ngalah luhur wekasane.

Barangsiapa berani mengalah akhirnya akan mendapat keluhuran.

173)  Goleka kanca sing padha tujuane.

Carilah teman yang tujuannya sama.



Pelet Bulu Perindu Sukma
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960 -