1.
Ardhanariswari
Penulis
ramalan adalah pujangga waskita, berpengetahuan ilmu laduni (dlanugerahi
pengetahuan langsung datang dari Tuhan) sehingga dapat meramal dengan tepat
berbagai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang dan belum
terjadi pada saat menyusun naskah itu (+ 1850). Ramalan tersebut adalah sebagai
berikut: Ramalan pertama mengandung prakondisi globalisasi dunia, pendudukan Jepang,
perang kemerdekaan, pertempuran Ambarawa, dan tercapainya kemerdekaan Indonesia
lewat KMB pada tanggal 27 Desember 1949.
Ramalan
kedua (pascakemerdekaan) ialah perubahan politik dahsyat yang akan terjadi
pada tahun 2074 Saka, 100 tahun setelah Perang Sabil, ternyata adalah
perubahan politik yang dahsyat yang terjadi pada tahun 1998, yaitu 90 tahun
setelah Kebangkitan Nasional 1908, dan turunnya Soeharto sebagai Presiders
serta dimulainya era reformasi yang akan membangun masyarakat yang adil dan
makmur sesuai dengan cita-cita Pancasila dan UUD 1945 (Yoedoprawiro, 2000).
Terlepas
dari sumber kisah yang mana, serta siapa sebenarnya penyusun ramalan-ramalan
itu, sosok Ratu Adil yang digambarkan di dalam berbagai versi di dalam kisah
ramalan itu memiliki kemiripan ciri-ciri yang sangat tepat jika hal itu
dimiliki oleh seorang pemimpin bangsa yang sudah berada di ambang kehancuran
ini. Husein Djayadiningrat mengatakan, bagi orang Jawa, menunjuk pada
peristiwa-peristiwa penting dalam bentuk ramalan atau mimpi adalah untuk menjelaskan
atau memberikan pembenaran atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar
perkembangan yang biasa; juga untuk memberikan kesan yang mendalam. Karena itu
ramalan-ramalan mengenai peristiwa yang akan terjadi tampil tidak lama setelah
kejadiannya sendiri (Swantoro, 2000).
Suatu
contoh, dalam Kitab Pararaton. Ken Arok memperistri Ken Dedes, karena
wanita itu diramalkan sebagai ardhanariswari, seorang perempuan yang
gua garbanya bersinar, suatu pertanda bahwa ia adalah paro perempuan dari satu
kesatuan Siwa Durga. Siapapun yang berhasil memperistri ardhanariswari akan
menurunkan raja-raja. Maka di kemudian hari, kita ketahui bahwa Ken Arok telah
menurunkan sebaglan raja-raja Singosari, termasuk Raden Wijaya, pendiri
Majapahit (1294-1309).
Contoh
lagi, dalam Babad Tanah Jawi. Ketika Panembahan Senopati pendiri Dinasti
Mataram sedang berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Pajang, pada suatu
malam ia pergi ke Lipuro dan tidur di atas sebuah batu datar. Di tempat itulah
ia dijumpai oleh Ki Juru Martani, guru spiritualnya. Ia dibangunkan. Ketika itu
pula sebuah bintang turun di dekat kepalanya. Maka terjadilah dialog. Si
bintang berucap, keinginan Senopati akan diluluskan oleh Hyang Maha Kuasa. Ia
akan memerintah Mataram, demikian pula anak dan cucunya. Akan tetapi buyutnya
akan menjadi raja terakhir Mataram. Kerajaannya akan ditimpa bencana. Buyut
itu tidak lain adalah Mangkurat I, putra Sultan Agung. Ia terpaksa meninggalkan
Mataram pada 28 Juni 1677, akibat pemberontakan Trunajaya. Setelah peristiwa
itu, kraton dipindahkan oleh Mangkurat II ke Wonokerto yang kemudian diubah
namanya menjadi Kartosuro (Swantoro, 2000).
Babad
Tanah Jawi juga meriwayatkan Pangeran Pekik, putra
Pangeran Surabaya melakukan perjalanan ke Mataram setelah Surabaya ditaklukkan
oleh Sultan Agung pada tahun 1625. Pada suatu malam dipemakaman Butuh, ia
mendengar suara yang mengatakan cucunya akan menjadi raja dan bertahta di
Wonokerto. Cucu Pangeran Pekik itu adalah Mangkurat II. Ramalan tersebut
sekaligus juga merupakan pembenaran dipilihnya Wonokerto sebagai ibukota baru
Kerajaan Mataram.
2.
Herucakra
Sedangkan
mitos tidak bisa dipisahkan dalam sejarah hidup orang Jawa. Kisah Kanjeng Ratu
Kidul misalnya, yang istananya berada di Laut Selatan, dan menjadi permaisuri
raja-raja Jawa, umumnya dipandang sebagai mitos. Pengertlan tersebut bagi kalangan
masyarakat Jawa dlanggap benar-benar ada dan terjadi. Banyak yang menunjukkan
bukti-bukti pengalaman pribadi. Bagi mereka Kanjeng Ratu Kidul dlanggap
benar-benar mewujud.
Harapan
bakal tampilnya Ratu Adil untuk membebaskan masyarakat dari situasi krisis yang
berkepanjangan, bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk mitos (Swantoro,
2000). Harapan meslanistik itu mengalir langsung dari ide mengenai fungsi raja,
atau Ratu Adil sebagai pembaharu dan penyelenggara tertib kosmik. Dukungan
yang sangat besar terhadap Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830, yang “memitoskan
diri” sebagai herucakra, sebutan untuk Ratu Adil, tidak lepas dari
kuatnya harapan meslanistik tersebut. Demikian pula sama halnya dengan harapan
akan tampilnya satria piningit pada masa sekarang ini, untuk
membebaskan dan mencerahkan bangsa Indonesia.
Dari
sebutannya, Ratu Adil dapat ditafsirkan sebagai seorang yang mampu menempatkan
sesuatu pada tempatnya. Ratu Adil juga pasti mampu menjadi pelindung atau pengayom
dari seluruh rakyat tanpa membedakan golongan, tanpa keberpihakan kecuali hanya
berpihak kepada kebenaran hakiki yang bersifat universal. Dengan ciri ini maka
sulitlah kiranya jika Ratu Adil ini berasal dari salah satu kelompok
kepentingan yang dibesarkan oleh kelompok kepentingan itu. Hal ini wajar karena
seorang yang dibesarkan oleh suatu partai, tidaklah berlebihan jika sudah
berkuasa juga akan memberikan balas budi kepada partai yang membesarkannya.
Apa lagi jika partai itu juga dibesarkan oleh sekelompok pengusaha atau
sekelompok kepentingan, maka pasti akan terjadi proses balas budi secara
berantai yang merupakan pintu terjadinya kolusi, manipulasi, korupsi, dan
nepotisme.
3.
Tunjung Putih
Di
dalam ramalan Jayabaya, Ratu Adil juga disebut sebagai Ratu Amisan. Sementara
orang menafsirkan Ratu Amisan adalah sosok pemimpin pertama, sehingga ada yang
menafsirkan bahwa Ratu Amisan itu adalah presiden pertama. Namur tafsir itu
kandas ketika banyak orang mulai kecewa dengan presiden pertama.
Kata
amisan sebenarnya lebih tepat ditafsirkan sebagai pemimpin yang
benar-benar baru tampil, sehingga belum terkontaminasi
dengan sistem percaturan bisnis politik yang sarat dengan berbagai siasat kotor
demi kepentingan kelompok dan kekuasaan. Di dalam baglan lain ramalan juga
disebutkan lagi adanya ciri bahwa Ratu Adil itu adalah satriya piningit (ksatria
yang tersembunyi) yang dapat ditafsirkan sebagai tokoh baru bagaikan tunjung
putih semune pudhak kasungsang/ pudhak sinumpet (tokoh yang masih bersih,
yang keindahan perangainya bagaikan bunga teratai putih yang wanginya seperti
bunga pandan yang masih tersembunyi).
Kata
amisan dapat pula diartikan sekali (sepisan) memimpin. Oleh
karena itu kata amisan mengandung makna bahwa sang ratu adil itu bukan
sosok yang tamak atau haus akan kekuasaan. Ciri ini mengisyaratkan bahwa
seorang ratu adil itu tidak akan berjuang menghalalkan berbagai cara hanya
untuk sekedar mempertahankan atau melanggengkan kekuasaannya.
4.
Natanagara
Ratu
Adil itu juga seorang yang mampu sebagai manajer profesional negara. Ciri ini
nampaknya yang sering disebut‑sebut sebagai natanagara. Natanagara itu
bermakna menata, mengatur, mengelola (me-manage)
negara secara adil dan bertanggungjawab. Natanagara bukan
berarti menguasai negara, apalagi kalau kekuasaannya itu hanya untuk mengambil
keuntungan dari negara demi partai, kelompok kepentingan, atau para pengusaha
yang mendanai sang pemimpin atau partainya itu. Natanagara itu adalah
sosok yang mampu mengelola, menyelaraskan, serta mempersatukan keberagaman
golongan, kepentingan dan tingkatan sosial masyarakat sehingga semua
kebijakannya akan memuaskan semua lapisan, sehingga dapat dikatakan bahwa wadya
punggawa sujud sadaya, tur padha rena prentahe (semua fihak taat serta
merasa puas terhadap kebijakannya). Dengan demikian secara nalar sulitlah
kiranya jika seorang Ratu Adil ini masih terlibat secara langsung di dalam
salah satu partai, apa lagi menjadi ketua atau penanggungjawab akan jatuh
bangunnya partai itu.
Kepiawalannya
mengelola negara menyebabkan semua rakyat tidak merasa terperas tenaganya
dengan beban-beban pajak, yang di dalam Serat Jayabaya Musarar juga disebutkan
bahwa wong desa iku wedale kang duwe pajek sewu pan sinuda dening narpati
mung metu satus dinar (orang desa/rakyat biasa yang berpenghasilan terkena
pajak seribu, diturunkan pajaknya oleh sang raja menjadi seratus), bukan malah
dinaikkan beban-bebannya di satu fihak untuk menutup keruglan negara akibat
orang kota alias para konglomerat nakal. Semua kekayaan serta potensi persada
tanah air dikelola dengan baik oleh negara untuk kemakmuran rakyat, bukan
diprivatisasi demi kepentingan konglomerat yang mau diajak saling bersepakat,
dan bukan pula untuk kepentingan asing yang dapat memberikan restu memperkuat
kekuasaannya.
Ratu
Adil Natanegara tidak merasa malas dan juga tidak terlalu bodoh ataupun ceroboh
di dalam melakukan pengelolaan negara secara profesional, sehingga tidaklah
mungkin menyewakan, menggadaikan, melelang atau menjual aset-aset negara
seperti tambang minyak dan emas demi komisi untuk kepentingan pribadi, partai,
kelompok kepentingan atau kroni-kroninya.
Salah
satu versi ramalan menyebut Ratu Adil itu dengan sebutan Herucakra yang berarti
payung mustika/larnbang pengayoman, persaudaraan, serta pelayanan. Sang
Herucakra ini hanya berpenghasilan tujuh ribu reyal per tahun. Penghasilan
yang sangat terbatas ini mengisyaratkan bahwa sang Herucakra tidak mungkin
menempuh money politic untuk mencapai tahtanya.
5.
Panca Pa Manunggal
Dari
berbagai ciri yang tersebar di dalam berbagai versi ramalan tersirat bahwa di
dalam sosok Ratu Adil itu bersemayam keterpaduan serta keselarasan jiwa atau
ruh panca pa manunggal (lima pa yang bersatu), yaitu Pandita,
Pangayom, Panata, Pamong, Pangreh (pendeta, pelindung, manajer, pelayan,
dan pemimpin).
Sebagai
pendeta, seorang pemimpin harus bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, jujur dan
bersih dari moral, sifat serta perilaku buruk. Sebagai pengayom, seorang
pemimpin harus mampu melindungi serta mengayomi seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai manajer, seorang pemimpin harus mampu mengelola negara. Sebagai
pelayan, seorang pemimpin harus mampu mengakomodasikan kepentingan scluruh
lapisan masyarakat. Sebagai pemimpin, seorang pemimpin harus memiliki
kewibawaan dan jiwa kepemimpinan yang baik.
Itulah
sosok Ratu Adil yang sampai saat ini hanya ada di dalam angan-angan. Selama
sosok Ratu Adil itu hanya ada di dalam angan-angan, selama itu pulalah keadilan,
kemakmuran, ketenteraman, serta kesejahteraan hidup hakiki yang selalu
didambakan itu juga hanya ada di dalam angan-angan, atau bahkan hanya ada di
dalam alam implan di atas implan di dalam lamunan belaka. Mungkinkah
undang-undang atau atau tatanan politik kita mampu memunculkan sosok Sang Ratu
Adil?
Bagaimana
mungkin seorang sosok pemimpin muda pembaharu dapat muncul ke permukaan tanpa money
politic jika sistem tatanan politik yang dibuat hanya memungkinkan
tokoh-tokoh partai yang dibesarkan di dalam suatu lingkungan yang sarat dengan
akal-akalan, siasat serta tipu muslihat konstitusional yang berbasis pada
kepentingan dan kekuasaan.
Suatu
sistem konstitusi yang disusun secara jujur sedemikian rupa dapat memungkinkan
munculnya sosok-sosok Ratu Adil akan sangat membantu membenahi moral politik
yang pada saat ini masih mengandung orientasi pembodohan dan penipuan
masyarakat secara konstitusional demi kelanggengan kekuasaan dan kepentingan
kelompok kuat. Kualitas perangkat undang-undang pemilihan umum dan juga pemilihan
presiders secara langsung pada pemilihan umum mendatang mungkin merupakan alat
ukur kualitas moral tokoh pelaku politik bangsa ini.
Masihkah
rakyat menjadi alat nafsu politik pada pemilu mendatang? Masihkah rakyat bisa
ditipu dengan hiburan dan dilecehkan dengan janji-janji kampanye, kemudian
diterlantarkan hidupnya kelak? Harga BBM malah dinaikkan, tarif listrik,
telepon dan air minum juga dlanikkan sehingga rakyat makin melarat. Rakyat
tidak dapat menutup biaya kebutuhan hidupnya setelah para elite politik yang
didukungnya duduk manis di kursi empuk dengan berbagai fasilitasnya?
Ingsun meling mring sira kalihnya
kang dadya sesenggemane
ngirida gung lelembut
bala siluman nusa jawi
kabyantokna sang nata
h e r u c a k r a p r a b u
nata tedhaking barata
wijilira ing ketangga sonyaruri
sajroning alas pudhak
6. Dasa Darma Harendra
Jauh
sebelum ramalan ini dicetuskan, Sang Buda telah menggariskan pemimpin atau
pemimpin yang pantas dipuja oleh seluruh penduduknya, yaitu yang memiliki sepuluh
kebajikan luhur dan sering disebut dengan dasa darma narendra.
Sepuluh
kebajikan itu dapat diterangkan sebagai berikut:
1) Kebajikan
Pertama: Paricaga, rela berkorban
Pemimpin
harus rela berkorban demi mendahulukan kepentingan bangsanya. Pemimpin yang
enggan berkorban dan lebih mementingkan isteri, suami, keluarga. Dan teman-teman
dekatnya untuk mengambil keuntungan akan dikritik dan ditinggalkan rakyatnya.
2) Kebajikan
Kedua: Ajava, berhati tulus
Pemimpin
dalam bertindak harus dengan hati tulus dan tidak dibuat-buat dan juga tidak
untuk menarik simpati rakyatnya. Program-program membantu anak yatim piatu dan
orang tua asuh haruslah dilakukan dengan tulus, dan tidak sekedar program
sementara untuk menyenangkan rakyat menjadi program semu yang menipu.
3) Kebajikan
Ketiga: Dana, gemar berdana atau beramal
Pemimpin
yang pantas dipuja haruslah memiliki kemurahan hati dan beramal demi orang
banyak. Pemimpin ini akan membangun tempat-tempat ibadah, panti asuhan, panti
jompo dan sekolah-sekolah dengan menggunakan kekayaannya, apalagi disokong oleh
menteri-menteri yang gemar berdana pula. Bukan malah mengeruk uang rakyat yang
dititipkan ke kas negara.
4) Kebajikan
Keempat: Tapa, hidup bersahaja dan sederhana
Pemimpin
dan keluarganya harus memberikan contoh hidup sederhana. Tidak perlu memiliki
rumah dan tanah di mana-mana tapi tidak ditinggali. Rakyat akan mencontoh cara
hidup pemimpinnya yang sederhana. Meskipun krisis ekonomi dan politik menerpa
suatu negara, rakyat akan menerimanya jika melihat cara hidup pemimpinnya yang
sederhana. Bukan sebaliknya, punya villa, puri, simpanan mobil dan perempuan di
mana-mana.
5) Kebajikan
Kelima: Susila, memiliki moralitas yang tinggi
Pemimpin
harus menunjukkan kesusilaan yang terjaga dengan baik. Pemimpin dengan moral
buruk, dan suka mencabuli dan menikmati tubuh perempuan yang bukan isterinya
akan membuat ia ambruk dan terpuruk.
6) Kebajikan
Keenam: Madava, berperilaku ramah-tamah
Pemimpin
akan mendapatkan respek dari rakyatnya dengan berprilaku ramah-tamah. Bukan
sebaliknya, rakya dipaksa berperilaku ramah-tamah, sementara pemimpinnya
berperilaku angkuh, seenaknya.
7) Kebajikan
Ketujuh: Akodha, tak gampang marah dan dendam
Jika
ada menteri yang salah bicara atau salah bertindak, pemimpin tidak seharusnya
marah-marah, mendendam dan memecat menterinya serta-merta. Sifat tak gampang
marah dan dendam ini akan mengurangi friksi-friksi politik dalam pemerintah.
8) Kebajikan
Kedelapan: Khanti, mempunyai kesabaran
Pemimpin
yang tidak sabar dalam menghadapi tuntutan rakyatnya akan kesandung. Dia akan
mengambil keputusan secara tergesa-gesa dan merugikan diri sendiri dan
rakyatnya. Keputusan yang dihasilkan tidak matang dan harus direvisi atau pun
tidak diikuti rakyatnya.
9) Kebajikan
Kesembilan: Avirodhana, tidak suka mencari permusuhan
Kebajikan
ini akan membuat pars menteri menjalankan tugas-tugasnya selaras dengan
kebijakan pemimpin. Juga, pemimpin tidak berupaya mencari masalah dan pertentangan
dengan negara tetangga yang pada akhirnya akan merugikan negerinya sendiri.
Memulai pertentangan dapat dengan mudah dijalankan, melakukan kerjasama damai
dan normalisasi hubungan dengan negara lain jauh lebih sulit dan menghabiskan
biaya yang tidak sedikit.
10) Kebajikan
Kesepuluh: Avihimsa, tidak bersifat kejam Dalam
menghadapi perbedaan pendapat dan demo-demo, pemimpin tidak boleh
memerintahkan tentaranya untuk membunuh rakyat dan lawan-politiknya. Dalai Lama
dengan sifatnya yang welas asih, berhasil menarik perhatlan dunia atas rakyat
Tibet. Dukungan dan perbaikan atas rakyat Tibet terus berdatangan, pemerintah
Cina berusaha mengakomodir tuntutan perbaikan masyarakat Tibet. Sementara
itu, sifat kejam akan membawa kejatuhan, seperti para diktator yang kekuasaannya
selalu berakhir tragis.
Masa kejayaan Indonesia
akan tiba jika dipimpin oleh seseorang yang memiliki dasa darma narendra. Kesepuluh
kebajikan ini yang akan membuat suatu negara menjadi kuat dan damai. Para
pemimpin masyarakat, pemuka agama, aktivis mahasiswa, pendidik dapat memulai
memupuk kebajikan dasa darma raja agar krisis dapat dikurangi dan masa kejayaan
dapat kita nikmati secepatnya. Bangsa Indonesia sedang menunggu satria
pinandhita yang menjalankan sepuluh kebajikan kepemimpinan, dasa darma raja,
setelah melampaui jaman Kaliyuga ini. Mungkin dalam Pemilu nanti lahir pemimpin
seperti itu, mungkin pula pemimpin itu muncul sebelum atau sesudahnya, kita
tidak tahu pasti.
7.
Satria Piningit
Satria
piningit adalah pemimpin Indonesia masa depan yang akan
membawa kemakmuran. Para pengamat memperkirakan, pada saat satria piningit
muncul, Indonesia sedang menghadapi gara-gara atau kerusuhan besar. Setelah ia
menjadi pemimpin negara, bangsa Indonesia akan menuju kemakmuran dan kejayaan
seperti pada jaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Tiap
periode sejarah Nusantara sejak jaman kerajaan, jaman Belanda, Jepang, dan
bahkan RI pasca 45 selalu saja dituding memuat Jaman Edannya masing-masing.
Orang pusing menentukan Jaman Edan yang tulen. Tapi, cerewet dalam soal Jaman
Edan adalah kebiasaan orang Jawa. Ini bisa jadi terapi jiwa dan manjur
menangkal segala rubeda alias kesulitan hidup. Pendeknya, serbaguna sebagai
pelarlan.
Serba
gunanya, antara lain kita jadi respek pada warisan nenek-moyang yang amat
menakjubkan. Tapi ia rumit bukan main sebab begitu banyak arsipnya. Salah satu
arsip itu menyebut-nyebut Eyang Prabu Jayabaya. Beliau salah satu Maharaja
Kediri dari Mamenang, kabaruya sakti mandraguna, tapi cuma tahan memerintah 22
tahun (1135-1157) alias tidak sampai seperempat abad. Ini untuk ukuran Raja
Jawa sudah super. Banyak raja lain cuma tahan beberapa tahun. Yang memerintah
cuma beberapa bulan juga ada. Jadi, dalam faham Jawa, Soeharto itu tergolong
pemimpin super.
Prabu
Jayabaya diisukan mencipta Ramalan Jayabaya yang memeluk 2100 tahun waktu rembulan,
berisi 21 jaman salah satunya ialah Jaman Edan. Mencipta, itu dalam arti menulis
sendiri atau suruhan orang lain, tidak jelas. Sebab jaman itu hidup dua
pujangga kondhang ialah Empuh Sedah dan Empu Panuluh. Penelitian dan utak-atik
lewat segi bahasa, isi (yang singkatnya menyangkut catatan kejadian dan ramalan)
dan jaman, menyimpulkan Ramalan Jayabaya itu bukan karangan Jayabaya. Ia cuma
salinan atau turunan yang sudah penuh tambal-sulam sang penyalin. Ini pun
dengan asumsi kalau sang babon alias sumber aslinya memang betul-betul ada.
Para
pakar yang faham membedakan Jawa Kuno, Kawi dan jawa lain-lain yang entah Jawa
apa, menunjuk aneka ragam ramalan itu tertulis dalam bahasa jawa relatif muda
dan miskin Kawinya. Itu artinya terpisah sekitar 7 abad dari sang babon di
Kediri abad XII. Lagi pula, teks-teks tersebut amat warna-warni nyaris campur
aduk terdiri atas prosa, puisi, dan legenda. Itulah babad yang rekonstruksi
kadar nilai historisnya menuntut kejellan kerja sama berbagai disiplin ilmu.
Singkatnya,
publik masa kini cuma dapat warisan teks-arsip-sastra Bengawan Solo abad XIX
yang mengacu pada anak bengal yang pernah dlanggap bodoh tapi ternyata berotak
ajaib mungkin sekaliber Socrates atau Iqbal atau Thomas Aquinas yang lalu jadi
pujangga kraton Surakarta, yaitu, Ranggawarsita. Ia lahir Senin Legi 15 Maret
1802 dan wafat entah wajar atau dihukum mati pada 24 Desember 1873.
Satria
Kinunjara Murwa Kuncara. Satria terpenjara, Soekarno memang
diketahui sebelum tampil menjadi presiden, keluar masuk penjara. Selepas dari
penjara ia berhasil melepaskan bangsa Indonesia dari penjara bernama
kolonialisme-imperialisme. Ia sangat kuncara sebagai pemimpin besar yang berhasil
mempengaruhi sepertiga dunia dengan gerakan Non Blok yang dibangun dari
konsepnya dan menentang negara adikuasa dengan kata-kata khasnya, “Go to
hell with your aid!”
Satria
Mukti Wibawa Kesandung Kesampar. Satria berwibawa,
Soeharto memang presiden berwibawa. Ia tampil sebagai presiden selama 32 tahun
tanpa ada orang yang berani melawannya. Namun di akhir kepemimpinannya seolah
semua hasil tindakannya kesandhung kesampar, serba buruk dan
dipersalahkan semua orang.
Satria
Jinumput Sumela Atur. Satria yang naik tahta bukan karena
pilihan melainkan jinumput yakni Bacharuddin Yusuf Habibie menjadi
presiden setelah Soeharto lengser. Satria terpungut ini tak henti-hentinya
digoyang. Akan tetapi kepemimpinannya hanya sumela atur, menyela
kepemimpinan Yang sedang lowong. Itu saja ia sudah terbukti mampu menyelamatkan
Indonesia dari krisis ekonomi karena harga dollar dapat ditekan sampai di bawah
sepuluh ribu.
Satria
Lelana Tapa Ngrame. Satria pengembara yang diibaratkan wuta
ngideri jagad. Abdurrahman Wahid seorang yang punya kemampuan fisik
terbatas yakni pada pandangan matanya berhasil meyakinkan dunia dengan perjalanan
keliling dunlanya. Ia tokoh politik yang kontroversial tetapi sekaligus juga
seorang budayawan.
Satria
Piningit Hamong Tuwuh. Satria yang bagaikan tersembunyi
dan kemudian keluar dari pertapaan. Seorang ratu yang dipingit dan mendapatkan
legitimasi luas karena hamong tuwuh dari keturunannya. Ia menjadi simbol
penderitaan selama orde sebelumnya, sehingga begitu keluar dari pingitan ia mendapat dukungan luas dari publik. Dengan
segala kelemahan dan kelebihannya, satria ini diramalkan akan berhasil hamong
tumuwuh, merangkul segala komponen yang ada di bumi Nusantara dan
mengantarkan ke gapura pembuka jaman keemasan.
Satria Boyong Pambukaning Gapura. Satria yang berpindah tempat dan membuka gerbang. Pemimpin yang
akan menjembatani ke arah kemakmuran. la adalah negarawan tanpa pamrih. la
mengemban tugas meletakkan fondasi kenegaraan baru seperti membuka pintu gapura
jaman keemasan dan menggelar tikar, walaupun tidak akan sempat nglungguhi
klasa gumelar. la akan segera digantikan oleh satria lain pada periode
berikutnya.
Satria Pinandita Sinisihan Wahyu. Satria yang berjiwa dan bersemangat religius yang kuat. Dialah
pemimpin yang ditunggu yang akan membawa kepada kemakmuran dan kesejatlan
bangsa. Pada saat merasa tertindas, banyak orang mencari pelarlan yang dapat
dijadikan penghibur diri. Fenomena semacam ini juga dialami oleh bangsa kita
pada saat merasa tertindas oleh kaum penjajah, atau oleh para penguasa. Salah
satu pelarlan klasik positif yang populer adalah harapan akan datangnya sang
juru selamat, yang sering dikenal dengan julukan Ratu Adil. Di lingkungan orang
Jawa, cerita tentang kedatangan Ratu Adil ini sering dikaitkan dengan ramalan
atau jangka Jayabaya, dan juga ramalan para pujangga seperti R.Ng.
Ranggawarsita. Anehnya, pada saat ini pun, setelah bangsa ini nyaris hancur
akibat penjajahan nafsu yang menjelma dalam bentuk anarkisme multi level, sementara
orang juga mulai bertanya-tanya lagi tentang Ratu Adil itu. Masalahnya
banyak orang yang sudah mulai sadar bahwa sejak
jaman kehidupan era rimba raga, kerajaan, penjajahan, kemerdekaan dengan Orde
lama, Orde Baru, dan segala reformasinya, rakyat selalu menjadi obyek penipuan
orang kuat atau penguasa dan kelompoknya, yang pada saat ini lebih
popular disebut elite politik. Orang sudah mulai
sadar bahwa paradigma litik hingga saat ini
masih kental dengan nuansa bisnis kekuasaan serta bisnis kepentingan, dengan
rakyat kecil masih dijadikan alat pijakan dan bulan-bulanan. Satria Pinandita
Sinisihan Wahyu itulah yang nantinya muncul menggantikan pemimpin yang ada dan
membebaskan rakyat dari berbagai macam kesulitan.
Pelet Bulu Perindu Sukma
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960















