Pelet Bulu Perindu 
Bulu Perindu Asli Kalimantan

Di dalam blog ini akan saya jelaskan tentang khasiat dari Bulu Perindu yang melegenda yang khasiat utamanya adalah sebagai media pengasihan atau pemikat lawan jenis, baik Pria ataupun Wanita. Bulu perindu dapat mengatasi Solusi asmara anda yang kandas, pacar diambil orang, cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara. 

Ciri - ciri keaslian
Jika ditetesi / dibasahi air dan diletakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjubkan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing. Sepasang Bulu Perindu jika didekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling mendekat dan melilit.

Testing Video Keaslian Bulu Perindu Kami


jika anda ada target khusus, saya sarankan anda mengirimkan data ke whatsaap seperti nama panggilan anda dan pasangan. Foto masing-masing anda dan pasangan anda dengan syarat wajah masing-masing harus jelas agar saya mudah mengerjakannya dan cepat hasilnya, boleh foto sendiri atau berdua dengan pasangan anda.

mahar tingkat satu 350.000 sudah ongkos kirim
khasiatnya antara lain.. pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, mengembalikan pasangan yang selingkuh, cocok untuk pria dan wanita.

mahar tingkat Dua 550.000 ribu sudah ongkos kirim
Khusus yang tingkat dua perbedaanya dengan tingkat satu adalah khusus bagi yang sudah berumah tangga atau sudah menikah, mengapa demikian karena power atau bulu perindu tingkat 2 mempunyai power 2x lebih besar dari tingkat 1 karena untuk orang yang sudah menikah rata-rata mempunyai aura yang sudah melemah karena faktor energi cakranya yang meredup akibat sudah seringnya berhubungan badan, jadi dibutuhkan kekuatan ekstra untuk
menggunakan bulu perindu ini.
kekuatan bulu perindu tingkat 2 ini difokuskan untuk mengembalikan pasangan yang selingkuh/pergi dengan laki-laki lain atau sudah tidak cinta lagi
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh, mengembalikan pasangan yang selingkuh, cocok untuk pria dan wanita tanpa ritual, puasa dan tanpa pantangan juga bisa di wariskan ke Anak Cucu.

Penjelasan cara pakai :  Untuk hasil dan manfaat 2 hari pakai sudah terasa hasilnya, Anda cukup simpan dalam dompet sesuai niat, karena sudah saya persiapkan sesuai untuk kebutuhan anda, dan juga panduan cara pakai untuk keluhan anda juga lengkap saya kirim via jne atau pos kilat untuk cara pakai minyak cukup oles ke bagian tubuh anda, dimana aja sesuai niat dan tujuan anda, dan saya  lengkapi juga  dengan cara pakai jarak jauh tanpa harus bertemu target anda. Sangat aman tidak ada pantangan atau efek samping dan perawatan khusus.

mahar Minyak Bulu Perindu 650.000 ribu sudah ongkos kirim

Mahar Bulu peirndu tingkat 3 khusus minyak dan sepasang bulu perindu ini dipadukan dengan kekuatan minyak bulu perindu itu sendiri jadi dengan kata lain kekuatannya akan semakin sempurna untuk anda gunakan, khusus untuk minyak bulu perindu ini energinya lebih difokuskan untuk mengembalikan pasangan anda yang sudah berpaling dari anda dan pergi meninggalkan anda/selingkuh ke orang lain.

jika anda ingin datang ke Padepokan  kami yang berada di Jl bakaran batu no 182 lubuk pakam kota (sumut). untuk pengiriman atau pemaharan luar kota media bisa kami kirim ke alamat anda menggunakan jasa jne, pos, jnt dan tiki lama sampai tergantung lokasi tujuan anda untuk kota² besar biasa pengiriman hanya 2 hari saja sampai.

"Disclaimer : Hasil dan manfaat media bulu perindu dan minyak bulu perindu ini akan di jamin hasilnya jika niat dan tujuan anda menggunakannya dengan baik tanpa ada unsur untuk merugikan pasangan anda"

"Bagi Para Pria dan wanita Yang Ingin Berhasil Dalam Mengatasi masalah asmara, jodoh, perselingkuhan, agar di sayang atasan dan juga pelaris usaha, Bisa Menggunakan Bulu Perindu Ini Sebagai Solusi"

setelah transfer Mahar harap konfirmasi sms ke no 0896-6922-9050  sertakan juga no hp dan alamat lengkap saudara untuk memudah kan pengirimam bulu perindu dan Minyak bulu perindu dan tata cara penggunaanya akan di kirim melalui JASA JNE,TIKI DAN POS.

NB: untuk pemohon agar terlebih dahulu mengirimkan pesan WA atau email bulusukmapemungkas@gmail.com dan jika ingin kontak langsung hub atau sms ke no saya.
 
TESTIMONI DARI WA





 

 

 

S








Bukti pengiriman JNE dan Pos Indonesia

Konsultasi Klik di bawah ini



Whatsapp 0896-6922-9050

MAHAR MINYAK BULU PEERINDU |MAHAR PELET MANTRA  |MAHAR PELET FOTO | | MAHAR PELET SEMAR MESEM | MAHAR PUTER GILING|MAHAR PELET TEMPE|TLP/SMS/WA: 0896-6922-9050 

Note: Jika 2 kali panggilan telepon tidak diangkat harap maklum berarti kami sedang sibuk, Silahkan tinggalkan pesan.

Ramalan Jaya Baya Tentang Satria Pinandhita




1. Ardhanariswari
Penulis ramalan adalah pujangga waskita, berpengeta­huan ilmu laduni (dlanugerahi pengetahuan langsung datang dari Tuhan) sehingga dapat meramal dengan tepat berbagai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang dan belum terjadi pada saat menyusun naskah itu (+ 1850). Ramalan tersebut adalah sebagai berikut: Ramalan pertama mengandung prakondisi globalisasi dunia, pendudukan Je­pang, perang kemerdekaan, pertempuran Ambarawa, dan tercapainya kemerdekaan Indonesia lewat KMB pada tanggal 27 Desember 1949.

Ramalan kedua (pascakemerdekaan) ialah perubahan po­litik dahsyat yang akan terjadi pada tahun 2074 Saka, 100 ta­hun setelah Perang Sabil, ternyata adalah perubahan politik yang dahsyat yang terjadi pada tahun 1998, yaitu 90 tahun setelah Kebangkitan Nasional 1908, dan turunnya Soeharto sebagai Presiders serta dimulainya era reformasi yang akan membangun masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan cita-cita Pancasila dan UUD 1945 (Yoedoprawiro, 2000).

Terlepas dari sumber kisah yang mana, serta siapa sebe­narnya penyusun ramalan-ramalan itu, sosok Ratu Adil yang digambarkan di dalam berbagai versi di dalam kisah ramalan itu memiliki kemiripan ciri-ciri yang sangat tepat jika hal itu dimiliki oleh seorang pemimpin bangsa yang sudah berada di ambang kehancuran ini. Husein Djayadiningrat mengata­kan, bagi orang Jawa, menunjuk pada peristiwa-peristiwa penting dalam bentuk ramalan atau mimpi adalah untuk men­jelaskan atau memberikan pembenaran atas peristiwa-peris­tiwa yang terjadi di luar perkembangan yang biasa; juga untuk memberikan kesan yang mendalam. Karena itu ramalan-ra­malan mengenai peristiwa yang akan terjadi tampil tidak lama setelah kejadiannya sendiri (Swantoro, 2000).

Suatu contoh, dalam Kitab Pararaton. Ken Arok memper­istri Ken Dedes, karena wanita itu diramalkan sebagai ardha­nariswari, seorang perempuan yang gua garbanya bersinar, suatu pertanda bahwa ia adalah paro perempuan dari satu kesatuan Siwa Durga. Siapapun yang berhasil memperistri ardhanariswari akan menurunkan raja-raja. Maka di kemudian hari, kita ketahui bahwa Ken Arok telah menurunkan sebaglan raja-raja Singosari, termasuk Raden Wijaya, pendiri Majapahit (1294-1309).
Contoh lagi, dalam Babad Tanah Jawi. Ketika Panembahan Senopati pendiri Dinasti Mataram sedang berupaya mele­paskan diri dari kekuasaan Pajang, pada suatu malam ia pergi ke Lipuro dan tidur di atas sebuah batu datar. Di tempat itulah ia dijumpai oleh Ki Juru Martani, guru spiritualnya. Ia dibangunkan. Ketika itu pula sebuah bintang turun di dekat kepalanya. Maka terjadilah dialog. Si bintang berucap, ke­inginan Senopati akan diluluskan oleh Hyang Maha Kuasa. Ia akan memerintah Mataram, demikian pula anak dan cucu­nya. Akan tetapi buyutnya akan menjadi raja terakhir Mata­ram. Kerajaannya akan ditimpa bencana. Buyut itu tidak lain adalah Mangkurat I, putra Sultan Agung. Ia terpaksa meninggalkan Mataram pada 28 Juni 1677, akibat pemberontakan Trunajaya. Setelah peristiwa itu, kraton dipindahkan oleh Mangkurat II ke Wonokerto yang kemudian diubah namanya menjadi Kartosuro (Swantoro, 2000).
Babad Tanah Jawi juga meriwayatkan Pangeran Pekik, pu­tra Pangeran Surabaya melakukan perjalanan ke Mataram setelah Surabaya ditaklukkan oleh Sultan Agung pada tahun 1625. Pada suatu malam dipemakaman Butuh, ia mendengar suara yang mengatakan cucunya akan menjadi raja dan ber­tahta di Wonokerto. Cucu Pangeran Pekik itu adalah Mangku­rat II. Ramalan tersebut sekaligus juga merupakan pembenar­an dipilihnya Wonokerto sebagai ibukota baru Kerajaan Ma­taram.

2. Herucakra
Sedangkan mitos tidak bisa dipisahkan dalam sejarah hi­dup orang Jawa. Kisah Kanjeng Ratu Kidul misalnya, yang istananya berada di Laut Selatan, dan menjadi permaisuri raja-raja Jawa, umumnya dipandang sebagai mitos. Pengertlan tersebut bagi kalangan masyarakat Jawa dlanggap benar-be­nar ada dan terjadi. Banyak yang menunjukkan bukti-bukti pengalaman pribadi. Bagi mereka Kanjeng Ratu Kidul dlanggap benar-benar mewujud.
Harapan bakal tampilnya Ratu Adil untuk membebaskan masyarakat dari situasi krisis yang berkepanjangan, bisa di­katakan sebagai salah satu bentuk mitos (Swantoro, 2000). Harapan meslanistik itu mengalir langsung dari ide mengenai fungsi raja, atau Ratu Adil sebagai pembaharu dan penyeleng­gara tertib kosmik. Dukungan yang sangat besar terhadap Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830, yang “memitos­kan diri” sebagai herucakra, sebutan untuk Ratu Adil, tidak lepas dari kuatnya harapan meslanistik tersebut. Demikian pula sama halnya dengan harapan akan tampilnya satria pi­ningit pada masa sekarang ini, untuk membebaskan dan men­cerahkan bangsa Indonesia.
Dari sebutannya, Ratu Adil dapat ditafsirkan sebagai se­orang yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ratu Adil juga pasti mampu menjadi pelindung atau penga­yom dari seluruh rakyat tanpa membedakan golongan, tanpa keberpihakan kecuali hanya berpihak kepada kebenaran hakiki yang bersifat universal. Dengan ciri ini maka sulitlah kiranya jika Ratu Adil ini berasal dari salah satu kelompok kepentingan yang dibesarkan oleh kelompok kepentingan itu. Hal ini wajar karena seorang yang dibesarkan oleh suatu partai, tidaklah berlebihan jika sudah berkuasa juga akan mem­berikan balas budi kepada partai yang membesarkannya. Apa lagi jika partai itu juga dibesarkan oleh sekelompok pengusaha atau sekelompok kepentingan, maka pasti akan terjadi proses balas budi secara berantai yang merupakan pintu terjadinya kolusi, manipulasi, korupsi, dan nepotisme.

3. Tunjung Putih
Di dalam ramalan Jayabaya, Ratu Adil juga disebut seba­gai Ratu Amisan. Sementara orang menafsirkan Ratu Amisan adalah sosok pemimpin pertama, sehingga ada yang menaf­sirkan bahwa Ratu Amisan itu adalah presiden pertama. Na­mur tafsir itu kandas ketika banyak orang mulai kecewa de­ngan presiden pertama.
Kata amisan sebenarnya lebih tepat ditafsirkan sebagai pemimpin yang benar-benar baru tampil, sehingga belum ter­kontaminasi dengan sistem percaturan bisnis politik yang sarat dengan berbagai siasat kotor demi kepentingan kelompok dan kekuasaan. Di dalam baglan lain ramalan juga disebutkan lagi adanya ciri bahwa Ratu Adil itu adalah satriya piningit (ksatria yang tersembunyi) yang dapat ditafsirkan sebagai tokoh baru bagaikan tunjung putih semune pudhak kasungsang/ pudhak sinumpet (tokoh yang masih bersih, yang keindahan perangainya bagaikan bunga teratai putih yang wanginya se­perti bunga pandan yang masih tersembunyi).
Kata amisan dapat pula diartikan sekali (sepisan) memim­pin. Oleh karena itu kata amisan mengandung makna bahwa sang ratu adil itu bukan sosok yang tamak atau haus akan kekuasaan. Ciri ini mengisyaratkan bahwa seorang ratu adil itu tidak akan berjuang menghalalkan berbagai cara hanya untuk sekedar mempertahankan atau melanggengkan kekua­saannya.

4. Natanagara
Ratu Adil itu juga seorang yang mampu sebagai manajer profesional negara. Ciri ini nampaknya yang sering disebut‑sebut sebagai natanagara. Natanagara itu bermakna menata, mengatur, mengelola (me-manage) negara secara adil dan bertanggungjawab. Natanagara bukan berarti menguasai ne­gara, apalagi kalau kekuasaannya itu hanya untuk mengambil keuntungan dari negara demi partai, kelompok kepentingan, atau para pengusaha yang mendanai sang pemimpin atau partainya itu. Natanagara itu adalah sosok yang mampu me­ngelola, menyelaraskan, serta mempersatukan keberagaman golongan, kepentingan dan tingkatan sosial masyarakat se­hingga semua kebijakannya akan memuaskan semua lapisan, sehingga dapat dikatakan bahwa wadya punggawa sujud sadaya, tur padha rena prentahe (semua fihak taat serta merasa puas terhadap kebijakannya). Dengan demikian secara nalar sulit­lah kiranya jika seorang Ratu Adil ini masih terlibat secara langsung di dalam salah satu partai, apa lagi menjadi ketua atau penanggungjawab akan jatuh bangunnya partai itu.

Kepiawalannya mengelola negara menyebabkan semua rakyat tidak merasa terperas tenaganya dengan beban-beban pajak, yang di dalam Serat Jayabaya Musarar juga disebutkan bahwa wong desa iku wedale kang duwe pajek sewu pan sinuda dening narpati mung metu satus dinar (orang desa/rakyat biasa yang berpenghasilan terkena pajak seribu, diturunkan pajak­nya oleh sang raja menjadi seratus), bukan malah dinaikkan beban-bebannya di satu fihak untuk menutup keruglan negara akibat orang kota alias para konglomerat nakal. Semua keka­yaan serta potensi persada tanah air dikelola dengan baik oleh negara untuk kemakmuran rakyat, bukan diprivatisasi demi kepentingan konglomerat yang mau diajak saling ber­sepakat, dan bukan pula untuk kepentingan asing yang dapat memberikan restu memperkuat kekuasaannya.

Ratu Adil Natanegara tidak merasa malas dan juga tidak terlalu bodoh ataupun ceroboh di dalam melakukan pengelo­laan negara secara profesional, sehingga tidaklah mungkin menyewakan, menggadaikan, melelang atau menjual aset­-aset negara seperti tambang minyak dan emas demi komisi untuk kepentingan pribadi, partai, kelompok kepentingan atau kroni-kroninya.

Salah satu versi ramalan menyebut Ratu Adil itu dengan sebutan Herucakra yang berarti payung mustika/larnbang pengayoman, persaudaraan, serta pelayanan. Sang Herucakra ini hanya berpenghasilan tujuh ribu reyal per tahun. Peng­hasilan yang sangat terbatas ini mengisyaratkan bahwa sang Herucakra tidak mungkin menempuh money politic untuk men­capai tahtanya.

5. Panca Pa Manunggal
Dari berbagai ciri yang tersebar di dalam berbagai versi ramalan tersirat bahwa di dalam sosok Ratu Adil itu berse­mayam keterpaduan serta keselarasan jiwa atau ruh panca pa manunggal (lima pa yang bersatu), yaitu Pandita, Pangayom, Panata, Pamong, Pangreh (pendeta, pelindung, manajer, pela­yan, dan pemimpin).
Sebagai pendeta, seorang pemimpin harus bertakwa ke­pada Tuhan Yang Mahaesa, jujur dan bersih dari moral, sifat serta perilaku buruk. Sebagai pengayom, seorang pemimpin harus mampu melindungi serta mengayomi seluruh lapisan masyarakat. Sebagai manajer, seorang pemimpin harus mam­pu mengelola negara. Sebagai pelayan, seorang pemimpin harus mampu mengakomodasikan kepentingan scluruh lapisan masyarakat. Sebagai pemimpin, seorang pemimpin harus memiliki kewibawaan dan jiwa kepemimpinan yang baik.
Itulah sosok Ratu Adil yang sampai saat ini hanya ada di dalam angan-angan. Selama sosok Ratu Adil itu hanya ada di dalam angan-angan, selama itu pulalah keadilan, kemak­muran, ketenteraman, serta kesejahteraan hidup hakiki yang selalu didambakan itu juga hanya ada di dalam angan-angan, atau bahkan hanya ada di dalam alam implan di atas implan di dalam lamunan belaka. Mungkinkah undang-undang atau atau tatanan politik kita mampu memunculkan sosok Sang Ratu Adil?
Bagaimana mungkin seorang sosok pemimpin muda pembaharu dapat muncul ke permukaan tanpa money politic jika sistem tatanan politik yang dibuat hanya memungkinkan tokoh-tokoh partai yang dibesarkan di dalam suatu lingkung­an yang sarat dengan akal-akalan, siasat serta tipu muslihat konstitusional yang berbasis pada kepentingan dan kekua­saan.

Suatu sistem konstitusi yang disusun secara jujur sedemikian rupa dapat memungkinkan munculnya sosok-sosok Ratu Adil akan sangat membantu membenahi moral politik yang pada saat ini masih mengandung orientasi pembodohan dan penipuan masyarakat secara konstitusional demi kelang­gengan kekuasaan dan kepentingan kelompok kuat. Kualitas perangkat undang-undang pemilihan umum dan juga pemi­lihan presiders secara langsung pada pemilihan umum men­datang mungkin merupakan alat ukur kualitas moral tokoh pelaku politik bangsa ini.

Masihkah rakyat menjadi alat nafsu politik pada pemilu mendatang? Masihkah rakyat bisa ditipu dengan hiburan dan dilecehkan dengan janji-janji kampanye, kemudian diterlan­tarkan hidupnya kelak? Harga BBM malah dinaikkan, tarif listrik, telepon dan air minum juga dlanikkan sehingga rakyat makin melarat. Rakyat tidak dapat menutup biaya kebutuhan hidupnya setelah para elite politik yang didukungnya duduk manis di kursi empuk dengan berbagai fasilitasnya?
Ingsun meling mring sira kalihnya
kang dadya sesenggemane
ngirida gung lelembut
bala siluman nusa jawi
kabyantokna sang nata
h e r u c a k r a p r a b u
nata tedhaking barata
wijilira ing ketangga sonyaruri
sajroning alas pudhak

6. Dasa Darma Harendra
Jauh sebelum ramalan ini dicetuskan, Sang Buda telah menggariskan pemimpin atau pemimpin yang pantas dipuja oleh seluruh penduduknya, yaitu yang memiliki sepuluh ke­bajikan luhur dan sering disebut dengan dasa darma narendra.
Sepuluh kebajikan itu dapat diterangkan sebagai berikut:
1)      Kebajikan Pertama: Paricaga, rela berkorban
Pemimpin harus rela berkorban demi mendahulukan kepentingan bangsanya. Pemimpin yang enggan berkorban dan lebih mementingkan isteri, suami, keluarga. Dan teman-teman dekatnya untuk mengambil keuntungan akan dikritik dan ditinggalkan rakyatnya.
2)      Kebajikan Kedua: Ajava, berhati tulus
Pemimpin dalam bertindak harus dengan hati tulus dan tidak dibuat-buat dan juga tidak untuk menarik simpati rakyatnya. Program-program membantu anak yatim pi­atu dan orang tua asuh haruslah dilakukan dengan tulus, dan tidak sekedar program sementara untuk menyenang­kan rakyat menjadi program semu yang menipu.
3)      Kebajikan Ketiga: Dana, gemar berdana atau beramal
Pemimpin yang pantas dipuja haruslah memiliki kemu­rahan hati dan beramal demi orang banyak. Pemimpin ini akan membangun tempat-tempat ibadah, panti asuhan, panti jompo dan sekolah-sekolah dengan menggunakan kekayaannya, apalagi disokong oleh menteri-menteri yang gemar berdana pula. Bukan malah mengeruk uang rakyat yang dititipkan ke kas negara.
4)      Kebajikan Keempat: Tapa, hidup bersahaja dan seder­hana
Pemimpin dan keluarganya harus memberikan contoh hidup sederhana. Tidak perlu memiliki rumah dan tanah di mana-mana tapi tidak ditinggali. Rakyat akan men­contoh cara hidup pemimpinnya yang sederhana. Mes­kipun krisis ekonomi dan politik menerpa suatu negara, rakyat akan menerimanya jika melihat cara hidup pemim­pinnya yang sederhana. Bukan sebaliknya, punya villa, puri, simpanan mobil dan perempuan di mana-mana.


5)      Kebajikan Kelima: Susila, memiliki moralitas yang tinggi
Pemimpin harus menunjukkan kesusilaan yang terjaga dengan baik. Pemimpin dengan moral buruk, dan suka mencabuli dan menikmati tubuh perempuan yang bukan isterinya akan membuat ia ambruk dan terpuruk.
6)      Kebajikan Keenam: Madava, berperilaku ramah-tamah
Pemimpin akan mendapatkan respek dari rakyatnya de­ngan berprilaku ramah-tamah. Bukan sebaliknya, rakya dipaksa berperilaku ramah-tamah, sementara pemimpin­nya berperilaku angkuh, seenaknya.
7)      Kebajikan Ketujuh: Akodha, tak gampang marah dan dendam
Jika ada menteri yang salah bicara atau salah bertindak, pemimpin tidak seharusnya marah-marah, mendendam dan memecat menterinya serta-merta. Sifat tak gampang marah dan dendam ini akan mengurangi friksi-friksi po­litik dalam pemerintah.
8)      Kebajikan Kedelapan: Khanti, mempunyai kesabaran
Pemimpin yang tidak sabar dalam menghadapi tuntutan rakyatnya akan kesandung. Dia akan mengambil keputus­an secara tergesa-gesa dan merugikan diri sendiri dan rakyatnya. Keputusan yang dihasilkan tidak matang dan harus direvisi atau pun tidak diikuti rakyatnya.
9)      Kebajikan Kesembilan: Avirodhana, tidak suka men­cari permusuhan
Kebajikan ini akan membuat pars menteri menjalankan tugas-tugasnya selaras dengan kebijakan pemimpin. Juga, pemimpin tidak berupaya mencari masalah dan perten­tangan dengan negara tetangga yang pada akhirnya akan merugikan negerinya sendiri. Memulai pertentangan dapat dengan mudah dijalankan, melakukan kerjasama da­mai dan normalisasi hubungan dengan negara lain jauh lebih sulit dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
10)  Kebajikan Kesepuluh: Avihimsa, tidak bersifat kejam Dalam menghadapi perbedaan pendapat dan demo-de­mo, pemimpin tidak boleh memerintahkan tentaranya untuk membunuh rakyat dan lawan-politiknya. Dalai Lama dengan sifatnya yang welas asih, berhasil menarik perhatlan dunia atas rakyat Tibet. Dukungan dan perba­ikan atas rakyat Tibet terus berdatangan, pemerintah Ci­na berusaha mengakomodir tuntutan perbaikan ma­syarakat Tibet. Sementara itu, sifat kejam akan membawa kejatuhan, seperti para diktator yang kekuasaannya selalu berakhir tragis.

Masa kejayaan Indonesia akan tiba jika dipimpin oleh seseorang yang memiliki dasa darma narendra. Kesepuluh keba­jikan ini yang akan membuat suatu negara menjadi kuat dan damai. Para pemimpin masyarakat, pemuka agama, aktivis mahasiswa, pendidik dapat memulai memupuk kebajikan dasa darma raja agar krisis dapat dikurangi dan masa kejayaan dapat kita nikmati secepatnya. Bangsa Indonesia sedang me­nunggu satria pinandhita yang menjalankan sepuluh kebajikan kepemimpinan, dasa darma raja, setelah melampaui jaman Kaliyuga ini. Mungkin dalam Pemilu nanti lahir pemimpin seperti itu, mungkin pula pemimpin itu muncul sebelum atau sesudahnya, kita tidak tahu pasti.

7. Satria Piningit
Satria piningit adalah pemimpin Indonesia masa depan yang akan membawa kemakmuran. Para pengamat memperki­rakan, pada saat satria piningit muncul, Indonesia sedang menghadapi gara-gara atau kerusuhan besar. Setelah ia men­jadi pemimpin negara, bangsa Indonesia akan menuju kemak­muran dan kejayaan seperti pada jaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Tiap periode sejarah Nusantara sejak jaman kerajaan, ja­man Belanda, Jepang, dan bahkan RI pasca 45 selalu saja ditu­ding memuat Jaman Edannya masing-masing. Orang pusing menentukan Jaman Edan yang tulen. Tapi, cerewet dalam soal Jaman Edan adalah kebiasaan orang Jawa. Ini bisa jadi terapi jiwa dan manjur menangkal segala rubeda alias ke­sulitan hidup. Pendeknya, serbaguna sebagai pelarlan.
Serba gunanya, antara lain kita jadi respek pada warisan nenek-moyang yang amat menakjubkan. Tapi ia rumit bukan main sebab begitu banyak arsipnya. Salah satu arsip itu me­nyebut-nyebut Eyang Prabu Jayabaya. Beliau salah satu Ma­haraja Kediri dari Mamenang, kabaruya sakti mandraguna, tapi cuma tahan memerintah 22 tahun (1135-1157) alias tidak sampai seperempat abad. Ini untuk ukuran Raja Jawa sudah super. Banyak raja lain cuma tahan beberapa tahun. Yang me­merintah cuma beberapa bulan juga ada. Jadi, dalam faham Jawa, Soeharto itu tergolong pemimpin super.

Prabu Jayabaya diisukan mencipta Ramalan Jayabaya yang memeluk 2100 tahun waktu rembulan, berisi 21 jaman salah satunya ialah Jaman Edan. Mencipta, itu dalam arti menulis sendiri atau suruhan orang lain, tidak jelas. Sebab jaman itu hidup dua pujangga kondhang ialah Empuh Sedah dan Empu Panuluh. Penelitian dan utak-atik lewat segi bahasa, isi (yang singkatnya menyangkut catatan kejadian dan ra­malan) dan jaman, menyimpulkan Ramalan Jayabaya itu bu­kan karangan Jayabaya. Ia cuma salinan atau turunan yang sudah penuh tambal-sulam sang penyalin. Ini pun dengan asumsi kalau sang babon alias sumber aslinya memang betul­-betul ada.
Para pakar yang faham membedakan Jawa Kuno, Kawi dan jawa lain-lain yang entah Jawa apa, menunjuk aneka ragam ramalan itu tertulis dalam bahasa jawa relatif muda dan mis­kin Kawinya. Itu artinya terpisah sekitar 7 abad dari sang babon di Kediri abad XII. Lagi pula, teks-teks tersebut amat warna-warni nyaris campur aduk terdiri atas prosa, puisi, dan legenda. Itulah babad yang rekonstruksi kadar nilai his­torisnya menuntut kejellan kerja sama berbagai disiplin ilmu.
Singkatnya, publik masa kini cuma dapat warisan teks-­arsip-sastra Bengawan Solo abad XIX yang mengacu pada anak bengal yang pernah dlanggap bodoh tapi ternyata ber­otak ajaib mungkin sekaliber Socrates atau Iqbal atau Tho­mas Aquinas yang lalu jadi pujangga kraton Surakarta, yaitu, Ranggawarsita. Ia lahir Senin Legi 15 Maret 1802 dan wafat entah wajar atau dihukum mati pada 24 Desember 1873.
Satria Kinunjara Murwa Kuncara. Satria terpenjara, Soe­karno memang diketahui sebelum tampil menjadi presiden, keluar masuk penjara. Selepas dari penjara ia berhasil mele­paskan bangsa Indonesia dari penjara bernama kolonialisme-imperialisme. Ia sangat kuncara sebagai pemimpin besar yang berhasil mempengaruhi sepertiga dunia dengan gerakan Non Blok yang dibangun dari konsepnya dan menentang negara adikuasa dengan kata-kata khasnya, “Go to hell with your aid!”
Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar. Satria ber­wibawa, Soeharto memang presiden berwibawa. Ia tampil sebagai presiden selama 32 tahun tanpa ada orang yang berani melawannya. Namun di akhir kepemimpinannya seolah semua hasil tindakannya kesandhung kesampar, serba buruk dan dipersalahkan semua orang.
Satria Jinumput Sumela Atur. Satria yang naik tahta bukan karena pilihan melainkan jinumput yakni Bacharuddin Yusuf Habibie menjadi presiden setelah Soeharto lengser. Satria terpungut ini tak henti-hentinya digoyang. Akan tetapi kepemimpinannya hanya sumela atur, menyela kepemimpinan Yang sedang lowong. Itu saja ia sudah terbukti mampu menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi karena harga dollar dapat ditekan sampai di bawah sepuluh ribu.
Satria Lelana Tapa Ngrame. Satria pengembara yang di­ibaratkan wuta ngideri jagad. Abdurrahman Wahid seorang yang punya kemampuan fisik terbatas yakni pada pandangan matanya berhasil meyakinkan dunia dengan perjalanan keli­ling dunlanya. Ia tokoh politik yang kontroversial tetapi seka­ligus juga seorang budayawan.
Satria Piningit Hamong Tuwuh. Satria yang bagaikan tersembunyi dan kemudian keluar dari pertapaan. Seorang ratu yang dipingit dan mendapatkan legitimasi luas karena hamong tuwuh dari keturunannya. Ia menjadi simbol penderitaan selama orde sebelumnya, sehingga begitu keluar dari pingitan ia mendapat dukungan luas dari publik. Dengan segala kelemahan dan kelebihannya, satria ini diramalkan akan berhasil hamong tumuwuh, merangkul segala komponen yang ada di bumi Nusantara dan mengantarkan ke gapura pembuka jaman keemasan.
Satria Boyong Pambukaning Gapura. Satria yang ber­pindah tempat dan membuka gerbang. Pemimpin yang akan menjembatani ke arah kemakmuran. la adalah negarawan tanpa pamrih. la mengemban tugas meletakkan fondasi kenegaraan baru seperti membuka pintu gapura jaman keemasan dan menggelar tikar, walaupun tidak akan sempat nglungguhi klasa gumelar. la akan segera digantikan oleh satria lain pada periode berikutnya.
Satria Pinandita Sinisihan Wahyu. Satria yang berjiwa dan bersemangat religius yang kuat. Dialah pemimpin yang ditunggu yang akan membawa kepada kemakmuran dan ke­sejatlan bangsa. Pada saat merasa tertindas, banyak orang mencari pelarlan yang dapat dijadikan penghibur diri. Feno­mena semacam ini juga dialami oleh bangsa kita pada saat merasa tertindas oleh kaum penjajah, atau oleh para penguasa. Salah satu pelarlan klasik positif yang populer adalah harapan akan datangnya sang juru selamat, yang sering dikenal dengan julukan Ratu Adil. Di lingkungan orang Jawa, cerita tentang kedatangan Ratu Adil ini sering dikaitkan dengan ramalan atau jangka Jayabaya, dan juga ramalan para pujangga seperti R.Ng. Ranggawarsita. Anehnya, pada saat ini pun, setelah bangsa ini nyaris hancur akibat penjajahan nafsu yang menjel­ma dalam bentuk anarkisme multi level, sementara orang juga mulai bertanya-tanya lagi tentang Ratu Adil itu. Masalahnya banyak orang yang sudah mulai sadar bahwa sejak jaman kehidupan era rimba raga, kerajaan, penjajahan, kemerdekaan dengan Orde lama, Orde Baru, dan segala reformasinya, rak­yat selalu menjadi obyek penipuan orang kuat atau penguasa dan kelompoknya, yang pada saat ini lebih popular disebut elite politik. Orang sudah mulai sadar bahwa paradigma litik hingga saat ini masih kental dengan nuansa bisnis ke­kuasaan serta bisnis kepentingan, dengan rakyat kecil masih dijadikan alat pijakan dan bulan-bulanan. Satria Pinandita Sinisihan Wahyu itulah yang nantinya muncul menggantikan pemimpin yang ada dan membebaskan rakyat dari berbagai macam kesulitan.


Pelet Bulu Perindu Sukma
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960 -