1. Lembah Sungai
Brantas
TANDA-TANDA
penting bahwa semakin banyak orang siap beranjak ke tingkat lebih tinggi dalam
evolusi kebudayaan adalah sejak revolusi industri masyarakat mulai menerima
kenyataan bahwa ada batas-batas kesanggupan manusia dapat mengendalikan alam.
Kadar perubahan teknologi dan ekologi telah mengalahkan kadar perubahan
sosial-budaya sehingga menghadapi Kejutan Budaya (Yoedoprawiro, 2000). Sebagai
akibat, manusia mulai menyadari bahwa kita adalah baglan dari alam, bukannya
terpisah dari alam, dan untuk melindungi diri kita sendiri kita harus
melindungi alam. Dalam beberapa tahun saja masyarakat mulai menyadari bahwa
dunia adalah kesatuan yang saling bergantung.
Keselamatan
dunia bergantung pada menganut pandangan kemanunggalan dunia (holistic
world view) mengubah sudut
pandang dari masyarakat pertanlan-industri melawan alam, menjadi masyarakat
dunia manunggal ialah menyatunya manusia dengan alam. Pandangan sarjana Barat
modern ini ternyata sudah mengakar sejak berabad-abad sebagai filsafat hidup
suku-suku Indonesia khususnya orang Jawa, sesuai dengan intisari cerita Dewa
Ruci bahwa semua di dunia ini pada dasarnya adalah satu (manunggaling kawulo
gusti, panteisme). Usaha kita harus melibatkan kemitraan dengan alam
berdasarkan pengertlan ekologi. Kadar perubahan teknologi sekarang demikian
besar dan cepat sehingga keselamatan manusia telah bergeser dari persoalan
biologis menjadi persoalan kebudayaan. Hal ini membutuhkan kerja sama manusia,
bukannya agresi. Jadi, dalam kerja sama dengan alam dan antarbangsa secara
global, laki-laki -perempuan akan memperbarui dan memperkuat keinginan dasar
manusia.
Makin
besar jumlah penduduk dunia melihat dirinya sebagai anggota dari suku dunia
(global tribe), maka usaha bersama akan menyelamatkan dunia. Evolusi sosial ini
harus cepat karena waktunya pendek, sebelum terjadi bencana alam yang dibuat
manusia sendiri, yaitu pertumbuhan penduduk, sumber-sumber alam yang menipis,
dan populasi yang meningkat. Dalam peta sejarah nasional, keberadaan Kerajaan
Kediri sangat populer. Kerajaan Kediri masih sangat berpengaruh terhadap
kehidupan masyarakat sampai saat ini. Ramalan Prabu Jayabaya masih sering kali
menjadi referensi bagi masyarakat awam dalam menanggapi fenomena kontemporer.
Kerajaan ini berada di daerah sekitar lembah Sungai Brantas sekitar tahun
1104-1222 M. Kerajaan Kediri pada waktu itu berjaya memimpin bumi Jawa Dwipa ke
puncak jaman keemasan.
Para
raja yang pernah memimpin kerajaan Kediri ini berdasarkan data-data sejarah
adalah Prabu Warsajaya (1104-1135), Prabu Jayabaya (1135-1157), Prabu
Sarweswara (1159-1161); Prabu Kroncaryadipa (1181-1182), Prabu Kameswara
(1182-1185), Prabu Srengga Kertajaya (1194-1205), Prabu Kertajaya (1205-1222).
Beberapa kah terjadi periode kosong. Hal ini karena terbatasnya informasi
tertulis yang bisa didapatkan, dan juga mungkin sekali karena terjadi
pergolakan politik yang mengakibatkan masa vakum. Keadaan demikian juga sering
menimpa kerajaan Jawa yang lain.
Para
raja Kediri, bisa dikatakan sudah memiliki kesadaran sejarah yang cukup
tinggi. Terbukti bahwa para raja tersebut mempunyai pujangga kraton yang
diberi tugas menggubah kisah-kisah luhur berupa kitab-kitab yang digores di
atas daun lontar. Dari tulisan-tulisan daun lontar tersebut,
informasi-informasi masa lalu bisa dikumpulkan dan disistematisasikan. Kitab
tersebut hingga kini telah melewati lorong waktu hampir 10 abad, namun masih
bisa kita jumpai.
2.
Putra Prabu Jayabaya
Di
antara raja Kediri, Prabu Jayabayalah yang paling terkenal. Prabu Jayabaya
adalah raja di Kediri yang paling terkenal. Beliau memerintah antara 1130-1157
M. Dukungan spiritual dan material dari Prabu Jayabaya dalam hal kesusastraan
dan kebudayaan tidak tanggung-tanggung. Sikap merakyat dan visinya yang jauh
ke depan menjadikan Prabu Jayabaya layak dikenang sepanjang masa. Kalau rakyat
kecil hingga saat ini ingat pada beliau, hal itu menunjukkan bahwa pada masanya
berkuasa tindakannya selalu bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. Silsilah
keturunan Prabu Jayabaya adalah sebagai berikut: Prabu Jayabaya berputra empat
orang: Pertama, di Kerajaan Mamenang, 1. Prabu Jaya Amijaya, dan keturunannya
menjadi raja di Mamenang, 2. Prabu jaya Amisena, 3. Prabu Kusumawicitra, 4.
Prabu Citrasuma, Kedua, di Kerajaan Pengging; 1. Prabu Pancadriya, 2.
Prabu Anglingdriya, Ketiga, di
Kerajaan Purwacarita: 1. Prabu Jayenglengkata, 2. Retna Pembayun, 3.
Arya Parijata, 4. Arya Jakawida, 5. Raden Subrata. Keempat, di Kerajaan
Jenggala: 1. Prabu Jayengrana, 2. Panji Asmarabangun, 3. Raden Priyambada, 4.
Raden Kudarawisrengga, 5. Raden Kudawanengpati, 6. Klana Jayengsari, 7. Raden
Dhawukmarma.
Prabu
Suryawisesa atau Raden Inu Kertapati berputra Prabu Surya Amiluhur. Ketika
terjadi letusan Gunung Kelud yang sangat dahsyat, Kerajaan Jenggala hancur.
Prabu Surya Amiluhur pindah ke Pajajaran. Di Pajajaran, Prabu Surya Amiluhur
bernama prabu. Mahesa Tandreman. Prabu. Banjaransari atau Raden Jaka Saputra
lahir dari permaisuri Dewi Candrasari. Ia berputra Prabu Mundingsari. Permaisuri
Dewi Sarwedi berputra: Putri bisu diambil Raja Kelan, Putri Retno Suweda,
Putri Sekar Kedhaton, Raden Jaka Sesuruh, Raden Slung Wanara.
Pelet Bulu Perindu Sukma
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960















