5. MENGUNGKAP JANGKA JANGKANING JAMAN
PRABU jayabaya membuat jangka atau ramalan yang isinya sejak pulau jawa didatangi oleh manusia pada tahun Saka 10 hingga hari Kiamat Kubra (Kiamat Besar) yang diperhitungkan 2100 tahun matahari lamanya. jika dihitung dengan tahun rembulan selama 2163 tahun.
1. Tentang Cakra Manggilingan
Jangka Jayabaya yang berisi ramalan tentang keadaan yang perlu diketahui oleh manusia diterangkan Prabu jayabaya sebagai berikut:
a. Cakra manggilingan, jaman iku owah gingsir
Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar, jaman itu selalu berubah.Sejarah dunia merupakan ritus kala "wak¬tu'yang akan selalu berputar. Ada kalanya jaman makmur sejahtera, ada kalanya zaman menjadi kacau-balau. Se¬perti cakra 'roda' yang selalu manggilingan 'berputar', ada saatnya di atas dan ada saatnya harus di bawah. Kebaikan, kejahatan silih berganti memimpin dunia. Kemakmuran dan kemelaratan silih berganti menghampiri nasib, manusia.
b. Mbesuk wolak-waliking jaman bakal teka.
Lambat-laun akan datanglah zaman yang serba terbalik¬balik itu. Tunggulah sang kala itu. Kala di mana tata nilai telah terjungkir balik. Zaman di mana kesesatan menjadi nabi yang diikuti oleh banyak orang dan kebaikan men¬jadi suatu yang dibenci dan dikejar-kejar untuk dimusnahkan. Lambat laun akan terjadi. Dan pada saat ini, atau sudah sejak beberapa dekade yang lalu, banyak peristiwa dari ramalan dari Sang Dwija Agung ini telah terjadi. Lambat laun, tapi jelas!
c. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.
Banyak orang berani melanggar sumpah yang diucapkannya sendiri. Sumpah bukan lagi sesuatu yang sakral. Hukum pun kehilangan supremasinya. Sumpah dlanggap sebagai angin lalu yang dengan mudah dibolak¬balikkan tergantung kepentingan. Pejabat bersumpah untuk menegakkan kebenaran dan membela rakyat. Akan tetapi jika kepentingannya terganggu, ia berani berbuat yang melanggar sumpah jabatannya demi nama baik.
d. Manungsa padha seneng nyalahake liyan, ora ngendahake hokum Allah.
Manusia saling lempar kesalahan, orang menyepelekan hukum Allah.demi ambisi pribadi, orang tega menghasut, memfitnah bahkan membunuh orang lain. Orang merasa benar sendiri. Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan kelihatan. Hukum Allah pun akhirnya disepelekan. Hukum rimba meraja. Siapa kuat ialah yang menentukan hukum. Siapa yang lemah ia akan terdesak.
e. Barang jahat dlangkat-angkat, barang suci dibenci.
Orang menghalalkan segala cara demi kepentingan diri dan kelompoknya. Kejahatan yang seharusnya dimusuhi tapi justru dipakai jika itu membawa keuntungan bagi diri dan kelompoknya. Orang bukan lagi membela kebe¬naran tapi membela keuntungan yang sebanyak-banyak¬nya. Sedangkan kesuclan jika dirasa mengganggu dirinya maka diabaikan, bahkan disingkirkan.
f. Sekilan bumi dipajeki.
Setiap jengkal tanah, semakin besar nilainya. Penduduk semakin banyak. Lebih dari enam miliar manusia menge¬lilingi bola dunia. Tanah menjadi aset yang paling mahal bagi manusia. Maka negara pun mengambil untung dari setiap petak tanah yang dikuasainya. Pada zaman kerajaan menggunakan sistem upeti glondhong pengareng-areng peni-peni raja peni guru bakal guru dadi dari seorang adipati kepada raja. Kini, setiap meter tanah diukur dengan pengukur yang tepat dan warga masyarakat diberi hak memilikinya dengan kewajiban membayar pajak kepada negara.
Pelet Bulu Perindu Sukma
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960
Anda punya masalah dengan asmara
kekasih pergi meninggalkan anda
jangan tunggu sampai kekasih anda di samber orang
buat pasangan anda kembali bertekuk lutut
Klik di sini
Pesan call/sms 087868523235 Pin BB 2B3EE960















